admasyitoh.com

Cloth Diapering, Why Not?

2 comments

Cloth diaper atau clodi adalah sebutan untuk popok kain. Sesuai namanya, popok ini difabrikasi dari material berbasis kain, sehingga bisa dipakai berkali-kali seperti layaknya baju. Saya tidak akan menjelaskan detail tentang definisi clodi ini karena sudah banyak artikel terkait yang diplubikasi. Di postingan ini saya ingin berbagi pengalaman saya berclodi yang sudah saya jalani sekitar 9 bulan terakhir. Tentang awal mula dan alasan saya memilih clodi.

Ceritanya, sedari dulu sebelum punya anak, bahkan sejak sebelum menikah, saya bercita-cita sebisa mungkin tidak memakai pospak a.k.a popok sekali pakai a.k.a pampers. Alasannya, menurut saya tidak pakai pampers itu keren, karena tidak 'nyampah'. 

Dan takdir seolah mendukung cita-cita saya tersebut. Saya menikahi laki-laki yang juga sevisi dengan saya dalam segala hal termasuk pandangan tentang pampers. Jadi ketika saya mengutarakan niat saya untuk tidak berpampers, dan memutuskan untuk berclodi, suami sangat mendukung seratus persen. Artinya beliau tidak hanyak mendukung secara moralitas tetapi juga material dan finansial. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. 

Sebagaimana umumnya, bayi kami juga memakai popok kain tali ketika newborn. Karena frekuensi pee dan poo-nya masih sering, popok kain tali lebih menguntungkan untuk diaplikasikan daripada pampers. Menurut saya, rugi kalau pakai pampers sebentar saja karena bayi yang bolak-balik poo. Rasanya seperti disayangkan kalau bayar 2500 rupiah (harga pampers per biji, anggap saja segitu) setiap 2 jam cuma untuk menampung poo dan dibuang. 

Pelit? Saya boleh dibilang pelit urusan beli pampers. Tapi kalau dipikir-pikir, dengan kondisi ekonomi saya yang standar, daripada beli pampers lebih baik beli kebutuhan bayi yang lain seperti baju, produk perawatan kulit, clodi, atau ditabung. 

Waktu itu saya punya stok 1 lusin lebih popok kain tali. Setiap hari dicuci, dikeringkan, dipakai. Walaupun kami tetap punya stok pampers, tapi jarang sekali dipakai. Biasanya dipakai kalau bayi diajak keluar saja, kontrol ke puskesmas atau jalan-jalan keluar rumah misalnya. 

Pernah beberapa kali si bayi dipakaikan pampers oleh eyang utinya (ibu saya, red) karena diajak jalan-jalan berjemur. Maksud hati supaya poo-nya tidak bercecer ketika di jalan. Sepulang jalan, sampai di rumah pampers langsung dicek dan diganti. Ternyata bayi saya ruam. Kulit pantat dan selangkangannya merah-merah. Kami jadi kapok dan menyesal sekali memakaikan pampers. Kami jadi lebih hati-hati dan makin mantap untuk tidak berpampers. 

Sehari-hari, baik pagi-siang-sore-malam, si bayi memakai popok kain tali yang dialasi kain lurik-lurik untuk memaksimalkan daya tampung popok. Kondisi ini berlangsung selama kurang lebih 1 bulan. Hasilnya ternyata sangat positif. Hampir tidak ada sampah pampers dan hemat sekali di kantong. Kulit bayi pun lebih aman. Bye bye deh ruam popok. 

Setelah 1 bulan, saya mulai galau. Frekuensi poo bayi mulai berkurang, tapi intensitasnya semakin banyak. Mulai deh, waspada tiap menggendong dan memangku bayi. Tetapi, saya sudah mulai coba-coba beli clodi. 

Yang paling membuat saya galau adalah pilih clodi model apa, berapa jumlahnya dan bagaimana perawatannya. Baik di keluarga saya maupun suami, belum pernah ada yang pengalaman dengan clodi, sehingga tidak ada yang bisa kami tanyai dan ajak diskusi.

Meskipun demikian, kami tetap bertekad untuk cloth diapering. Mulai googling, searching di internet tentang serba-serbi per-clodi-an. Awalnya sempat ragu karena bagi orang awam merawat clodi itu terkesan ribet dan susah. Yang membuat saya tetap yakin mencoba clodi adalah dampaknya terhadap lingkungan dan finansial keluarga. 

Dengan niat dan bismillah, di usia bayi 1 bulan, saya mulai memakaikan dia clodi. Coba-coba dulu. Waktu itu masih punya 3 set clodi : 1 set tipe pocket snap, 2 set tipe cover velcro. Pakainya pun terjadwal. Pagi setelah mandi bayi pakai popok kain tali, gonta-ganti, sampai sore. 

Setelah mandi sore mulai pakai clodi sampai malam. Ternyata sangat membantu di malam hari. Saya tidak perlu bangun berkali-kali untuk mengganti popok. Cukup 2-3 kali saja untuk mengganti clodi sekalian menyusui. 

Pagi harinya, clodi dicuci dengan baju-baju bayi yang lain. Ketika siang clodi kering, dipakai lagi seperti siklus sebelumnya. Begitu terus selama beberapa hari. 

Setelah dijalani, ternyata tidak sesulit itu mencuci clodi. Merawat clodi ternyata tidak serepot yang saya bayangkan. Awalnya saya kira akan kesusahan karena mencucinya harus dipisah dari cucian yang lain, deterjennya harus khusus, harus begini, tidak boleh begitu bla bla bla... Nyatanya kekhawatiran saya tidak terbukti. Tidak seribet itu. Sedikit menguras tenaga memang, tapi tidak semelelahkan itu. 

Akhirnya, saya pun berpikir untuk menambah stok clodi dan mulai bisa memilih tipe clodi yang paling pas sesuai kebutuhan dan keadaan.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan... Sampai si bayi sekarang umur 9 bulan, alhamdulillah kami masih istiqomah berclodi. Semakin hari semakin bertambah pengalaman dan pengetahuan saya tentang popok yang ramah lingkungan ini. Semakin jatuh hati saya dengan clodi dan rasanya ingin menyebar virus positif ini kepada bunda-bunda lain di luar sana yang belum memakai clodi. 

Bisa dibilang saya bangga menjadi cloth diaper parent (cie ciee). Selain ikut berpatisipasi dalam kampanye cinta lingkungan, kita juga bisa menjadi lebih rajin. Bagaimana tidak rajin, di saat orang lain santai tinggal buang sampah pampers, kita masih harus menyempatkan diri untuk mencuci dan memelihara clodi di tengah kesibukan kita merawat dan membesarkan anak, serta mengurus suami dan rumah tangga. Hebat 'kan? That's what I feel. We are wonder women. 

Faktanya memang tidak semua orang tua berani berclodi. Kebanyakan bilang, "Sebetulnya mau, tapi takut nggak bisa perawatannya." Bagaimana bisa bilang takut sedangkan belum pernah mencoba dan menjalani? Untuk konteks yang positif seperti berclodi ini, coba-coba adalah sesuatu yang halal. Tidak diharamkan. Jadi kenapa tidak coba dijalani dulu, baru nanti dirasakan dan diputuskan bagaimana akhirnya.

Bukan berarti orang tua yang memilih pampers tidak hebat. Bukan. Tidak begitu. Postingan saya ini tidak bertujuan untuk mendiskriminasi mereka yang tak berclodi. 

Setiap orang tua pasti punya cara sendiri dalam mencintai dan menyayangi anaknya. Setiap orang tua pasti punya alasan sendiri dalam setiap keputusan yang mereka buat untuk anaknya. Namun, alangkah baiknya jika di saat kita mencintai buah hati, di saat itu pula kita ikut kiprah dalam upaya menjaga alam sekitar. 

Memakai clodi akan sangat membantu dalam mengatasi masalah sampah di Indonesia tercinta ini, bahkan di dunia. Karena salah satu sumber limbah terbesar yang sulit sekali diuraikan bisa berkurang. 

Jadi, berclodi adalah salah satu solusi jitu untuk bersahabat dengan lingkungan. Bukankah setiap usaha pelestarian lingkungan wajib didukung, demi keberlangsungan hidup Bumi dan manusia itu sendiri?


Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. We are one, 사랑하자!
Newer Oldest

Related Posts

2 comments

Post a Comment