admasyitoh.com

Under The Queen's Umbrella Happy Ending yang Menyisakan Hampa dan Kecewa

19 comments

under the queen's umbrella

Yeorobun, sekitar dua bulan ini jagad KDramaland gonjang-ganjing akibat drama satu ini. Drama ‘Payung Ratu’ berhasil mempersatukan para pemuja oppa sedunia karena visual Seongnam Daegun yang meresahkan dan bikin luluh lantak. Kamu salah satunya? Review drama Korea Under The Queen’s Umbrella ini murni hasil penilaian subyektif dariku sebagai penggemar drakor, ya.

DISCLAIMER! LONG POST ALERT! Buat yang sudah nonton dan mengikuti drama ini, maaf kalau ulasan ini berbeda dengan penilaianmu. Buat yang belum nonton atau berencana nonton, semoga bisa memberi informasi apapun yang kamu butuhkan. Selamat membaca dan menyaksikan!

Tentang Drama Korea Under The Queen’s Umbrella

Kebanyakan netizen memberi nilai sempurna untuk drama yang baru saja tamat tanggal 4 Desember kemarin ini. Tayang di tvN, Netflix untuk siaran global, sebanyak 16 episode. Jujurly, drama ini memang punya POV dan storyline yang unik.

Jarang-jarang ada drama sageuk yang ambil POV ratu. Yang pernah aku tonton seingatku baru drama ini dan Mr. Queen. Ada lagi Seven Days Queen, yang main Park Min Young, tapi itu pun tidak murni seratus persen ketika dia jadi ratu.

Sayangnya, ending drama ini menurutku kurang 'nendang', yeorobun. Akhir drama ini justru menyisakan perasaan hampa dan kecewa.

Well, sebelum bahas lebih lanjut, kita kenalan dulu dengan drama yang berhasil melambungkan nama Moon Sang Min a.k.a Seongnam Daegun ini. Si Pangeran Agung yang punya kepribadian super cool, seperti kulkas sebelas pintu. Tapi super sweet, tsundere dan sangat andal.

Profil Drama

official poster queens umbrella

Title : Under The Queen's Umbrella or Queen's Umbrella

Literal Title : Shuroop (Umbrella) (슈룹)

Genre : Historical drama, black comedy

Director : Kim Hyeong Sik

Writer : Park Ba Ra

Network : tvN, Netflix (global)

Episodes : 16

Release Date : October 15 - December 4, 2022

Country, Language : South Korea

Creator : Studio Dragon

Production Company : HoW Pictures

Pemeran

Main Cast :

Kim Hye Soo sebagai Ratu Hwaryeong

Kim Hae Sook sebagai Ratu Dowager (Ibu Suri Ratu)

Choi Won Yong sebagai Raja Lee Ho

Pangeran Agung (Anak Ratu Hwaryeong) :

Bae In Hyuk sebagai Putra Mahkota

Moon Sang Min sebagai Pangeran Agung Seongnam (Seongnam Daegun)

Yoon Sang Hyeon sebagai Pangeran Agung Muan (Muan Daegun)

Yoo Seon Ho sebagai Pangeran Agung Gyeseong (Gyeseong Daegun)

Park Ha Joon sebagai Pangeran Agung Ilyoung (Ilyoung Daegun)

Support cast:

Kim Eui Sung sebagai Kepala Dewan Kerajaan

Jang Hyun Sung sebagai Menteri Perang Yoon Soo Gwang

Oh Ye Ju sebagai Yoon Cheong Ha (Putri Mahkota Seongnam)

Jeong Hye Won sebagai Cho Won

Kim Jae Bum sebagai Tabib Kwon Oh Gyeong

Seo Yi Sook sebagai Mantan Ratu Yoon

Selir Kerajaan :

Ok Ja Yeon sebagai Selir Hwang

Kim Ga Eun sebagai Selir Tae

Woo Jung Woon sebagai Selir Ko

Shin Soo Jung sebagai Selir Kim

Song Young Ah sebagai Selir Choi

Lee Ha Young sebagai Selir Moon

Lee Hwa Kyum sebagai Selir Ok

Lee So Hee sebagai Selir Park

Pangeran (Anak-anak Selir) :

Chani SF9 sebagai Pangeran Uiseong (anak Selir Hwang)

Kim Min Ki sebagai Pangeran Bogum (anak Selir Tae)

Moon Sung Hyun sebagai Pangeran Simso (anak Selir Ko)

Shin Ian sebagai Pangeran Yeongmin (anak Selir Kim)

Byun Hong Jun sebagai Pangeran Hwapyeong (anak Selir Choi)

Jo Young Jin sebagai Pangeran Namhyeong (anak Selir Moon)

Hong Jae Min sebagai Pangeran Hodong (anak Selir Ok)

Sinopsis

Bercerita tentang perjuangan Ratu Hwaryeong mendidik anak-anaknya untuk bisa bertahan hidup di istana. Ratu yang seharusnya bersikap lemah lembut dan anggun justru sebaliknya. Ia tidak bisa hidup tenang begitu saja, bahkan sampai harus mengabaikan peraturan istana, demi mendidik anak-anaknya yang semua bermasalah.

Anak pertamanya, Putra Mahkota, adalah sosok yang sempurna namun menderita penyakit mematikan. Anak keduanya, Seongnam Daegun (ini nih yang bikin banyak noona mendeklarasikan diri sebagai selir online) cenderung bebas, tidak terduga dan sulit diatur. Anak ketiganya, Muan Daegun, tidak betah tinggal di istana lalu jatuh cinta dengan gadis kasta rendah (intinya dia ngebet nikah).

pangeran agung

Anak keempatnya, Gyeseong Daegun, punya kepribadian yang berbeda, lemah lembut namun jiwanya perempuan (suka dandan seperti perempuan, if you know what I mean). Sedangkan si bungsu, Ilyoung Daegun, sering malas-malasan bangun ke kelas kerajaan dan tergila-gila dengan ilmu astronomi.

Keseharian Ratu Hwaryeong dipenuhi dengan ‘berlarian’ kesana-kemari di istana untuk membereskan masalah-masalah yang dibuat oleh para Pangeran Agung.

Sampai suatu ketika Putra Mahkota akhirnya meninggal dunia akibat penyakit yang diderita. Ratu curiga Putra Mahkota dibunuh dengan racun yang tidak bisa dideteksi dengan sendok perak. Di sisi lain, demi menyelamatkan keempat anaknya yang lain, harus ada adik Putra Mahkota yang menjadi penggantinya. Ratu berjuang mati-matian untuk mendidik salah satu Pangeran Agung agar menjadi Putra Mahkota.

Sementara itu, berbagai tipu muslihat terjadi di istana demi memperebutkan posisi Putra Mahkota yang kosong. Para selir saling bersaing agar pangerannya bisa menjadi Putra Mahkota.

Ibu Suri, sangat menginginkan Pangeran Uiseong yang menduduki tahta Putra Mahkota. Demikian pula Pangeran Uiseong dan Selir Hwang yang serakah dan ingin merebut kekuasaan tertinggi di istana.

Lalu, bagaimana perjuangan Ratu Hwaryeong dan para Pangeran Agung? Seongnam Daegun pada akhirnya berhasil mengamankan posisi sebagai Putra Mahkota, namun berhasilkah dirinya mengungkap misteri kematian kakaknya?

Review Drama Korea Under The Queen’s Umbrella

Adegan drama diawali dengan seekor burung elang yang terbang tinggi di langit malam. Bulan purnama yang terang benderang seakan-akan menambah suasana malam kian tegang.

Elang itu terbang di atas istana, melewati gerbang istana, lalu merendah di sekitar perkampungan penduduk. Ia mengikuti sebuah tandu yang digotong oleh sekelompok pria berperawakan gempal dengan tergesa-gesa.

Di dalam tandu, seorang wanita memakai hanbok merah dengan binyeo naga, duduk dengan gelisah. Tangannya mengepal erat, memperlihatkan kekuatan besar dalam genggaman jemarinya yang berhias cincin giok mewah.

Wanita itu adalah wanita paling kuat di Joseon. Ia bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh jika sudah gelap mata.

Ketika pagi menyingsing, tandu itu berhenti di sebuah rumah besar, tepatnya rumah gisaeng. Burung elang yang mengikuti tandu itu hilang, terbang entah kemana. Wanita di dalam tandu keluar dengan mata dipenuhi amarah dan derap langkah tegap, mendatangi putra ketiganya yang berada di salah satu kamar.

Tanpa banyak bicara, wanita itu memerintahkan para pengawal menyeret anak bujangnya ke tandu. Tak lupa, meninggalkan ancaman kepada perempuan muda yang rupanya tidur di bawah selimut yang sama dengan sang anak. Untaian kata perkenalan sekaligus pamit yang sama sekali tak terdengar ramah…

1. Teknik Sinematografi dan Pengambilan Gambar yang Unik

Yeorobun, aku terkesan sekali dengan drama ini sejak episode pertama. Angle shot atau sudut pengambilan gambar yang tak biasa menjadi first impression yang sangat membekas buatku. 

Pada adegan pembuka, penonton diajak melihat keindahan istana megah yang berdampingan dengan deretan hanok, melalui cara yang unik yaitu sudut pandang burung elang. Bird eye view istilahnya. Wow! 

Tidak banyak drama yang punya angle shot sebaik ini. Dengan memanfaatkan POV (point of view, in case you forget the meaning) bird eye, penonton bisa menyapu pandangan seluas mungkin. Cantik sekali ternyata, kalau view hanok dilihat dari atas. Dari teknik ini, aku punya ekspektasi yang tinggi untuk drama Queen’s Umbrella.

Mereka seperti menjanjikan teknik sinematografi tingkat tinggi, yang mampu memanjakan mata penonton untuk menyelami visual setiap episode yang ditayangkan. Nggak heran juga sih sebetulnya, Studio Dragon memang terkenal dengan garapannya yang apik untuk sinematografi. Seperti di drama Mr. Sunshine misalnya, yang juga digarap oleh mereka.

Ekspektasiku tidak berlebihan, yeorobun. Soal sinematografi, digital effect, teknik pencahayaan hingga musik latar drama ini memang bagus. Fyi, drama ini cuma punya dua lagu OST utama—ditambah OST instrumen dan musik latar lain tentunya. Tapi OST-nya bagus sekali. Personally, aku paling suka OST Part 1 yang dinyanyikan Elaine berjudul Child.

Elaine memang punya style musik yang berbeda dibanding penyanyi lain. Ia lebih suka genre lagu yang comforting dan menguras emosi pendengar. Tidak heran kalau Kim Joo Eun (nama asli Elaine) sering dipercaya mengisi OST drama-drama yang menguras emosi juga, seperti Mr. Sunshine, It’s Okay to Not Be Okay dan Vagabond.

Dari sisi grafis, banyak scene di drama ini yang menerapkan POV bird eye atau angle shot lainnya yang mengejutkan. Kadang aku sampai merinding, karena tidak menyangka mereka bisa menemukan angle yang sangat tidak terduga seperti itu. Contohnya ketika Ratu Hwaryeong memergoki Gyeseong Daegun ternyata diam-diam suka berdandan sebagai perempuan.

Saat itu, Ratu berlari di koridor istana yang samping kanan-kirinya berdiri pilar-pilar kokoh dan besar. Reaksi syok, terkejut, kecewa, bingung dan marah yang dialami Ratu jadi semakin bikin merinding karena kamera bergerak memutar ke samping. Hasil bidikannya berupa pemandangan sang Ratu yang seperti ‘terjepit’ pilar-pilar di sekitarnya.

Wah, ini keren banget! Karena efeknya benar-benar bisa menggambarkan kondisi Ratu yang seakan-akan tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di istana. Tidak ada tempat untuk berlari menyembunyikan air mata dari beban dan kekesalan yang ia rasakan. Daebak! Aku sempat melongo beberapa menit di scene ini—kalau tidak salah di episode 4.

2. Plot dan Storyline Menarik

Tbh, ketika teaser drama ini keluar, aku pikir nantinya akan jadi seperti Mr. Queen. Ratu yang kocak, lucu, tapi tegas dan nggak lembek. Ternyata aku salah, yeorobun. Drama ini genrenya black comedy. Jadi sisi komedinya tidak begitu ‘mencerahkan’ di sini, tipis-tipis dan secara eksplisit menyiratkan makna serius yang tidak lucu.

Yang bikin tepok jidat lagi, Queen’s Umbrella ini lebih cocok disebut perpaduan antara drama Moonlovers dan Sky Castle. Udah nonton belum? Like, actually it’s not funny y'all! Lucunya tuh nggak lawak kayak Mr. Queen atau Our Beloved Summer. Tapi lucunya tuh samar-samar doang, lucu yang serius. Gimana ya aku bilangnya… Tonton sendiri deh, biar paham maksudku.

Drama ini punya plot serius, cenderung tegang dan kompleks. Konflik yang diangkat sudah complicated sejak awal. Mana tokoh yang protagonis dan antagonis juga sudah terdefinisi dengan jelas sejak episode pertama. Nah, aku suka nih drama yang begini. Langsung frontal dan jelas sejak awal arahnya.

So, di drama ini kamu bisa merasakan ketegangan dan persaingan para selir dan Ratu. Ditambah lagi Ibu Suri yang punya segudang muslihat untuk memperkeruh suasana demi mewujudkan keinginannya. Para Pangeran dan Pangeran Agung dididik dengan cara-cara rahasia, unik dan kadang 'nyeleneh' demi menjadi Putra Mahkota.

Banyak plot twist mengejutkan dan tidak terprediksi yang bertebaran sepanjang penayangan drama, terutama dari episode 1 sampai 13. Meski drama ini menunjukkan konflik utama antara Jungjeon Mama (Ratu) VS Ibu Suri, tapi cerita-cerita supporting role di dalamnya menambah daya tarik drama. Seperti masalah-masalah antara anak dan ibu yang dialami para Pangeran (putra-putra selir).

ratu vs ibu suri

Yang paling menarik tentu kisah romance antara Seongnam Dageun dengan Cheongha (yang kelak jadi Putri Mahkota ketika Seongnam Daegun naik tahta). Seongnam adalah pria yang acuh tak acuh, berjiwa bebas, tidak banyak bicara tetapi ternyata sangat lembut dan penyayang. Ia tipe orang yang tidak terduga dan bisa diandalkan.

Sebaliknya, Cheongha adalah perempuan yang berjiwa lepas dan cenderung blak-blakan. Pemberani dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Ia tidak malu mengakui perasaan lebih dulu.

Takdir mempertemukan mereka menjadi sepasang kekasih dan akhirnya menjadi suami-istri yang punya peran penting di istana. Meski sempat timbul kesalahpahaman gara-gara taktik licik Ibu Suri, tapi mereka akhirnya bisa bertahan dan mengatasinya dengan baik.

the sweetest royal couple

Ternyata, Seongnam ini tsundere banget, yeorobun. Sebelum tahu kalau Cheongha adalah pilihan ibunya (dia mengira Cheongha di pihak Ibu Suri), sikapnya sedingin es kutub utara. Tapi setelah tahu yang sebenarnya? Halaaah… Bucin banget ini Seongnam Seja (udah naik tahta jadi Putra Mahkota ceritanya). Duh, Royal Couple ini memang menggemaskan sekali, manis banget, bisa diabetes aku tuh. Uwuwuwu.

Udah ganteng, cool tapi bucin, lembut dan penyayang lagi. Siapa yang nggak klepek-klepek coba? Jangankan Cheongha, para noona sejagad per-drakor-an juga pasti ambyar lah. Dia ini yang berhasil mempersatukan para cewek sedunia untuk menobatkan diri sendiri sebagai selir gadungan Seongnam di dunia maya. Sorry not sorry, aku nggak termasuk ya! Haha, ada-ada aja.

Konon kabarnya, Moon Sang Min a.k.a Seongnam ini tingginya 188 cm lo. Tapi di salah satu wawancara dia mengaku kalau tingginya sekarang 190 cm. Wah, sama seperti Uri Rowoonie dong, tinggi banget itu. Gimana kalau mereka seproyek ya? Apa nggak porak-poranda semesta per-bucin-an para oppa?!

seongnam daegun

Ok, skip. Back to the topic.

Alur cerita drama ini semakin seru dan menegangkan dari episode ke episode. Suasananya terbangung dengan baik sampai di klimaks. Masalah-masalah kecil terselesaikan, namun di sisi lain konflik utama menjadi semakin berat. Aku bisa menikmati alurnya dari episode 1 sampai 13. Setelahnya? Mendadak aku kurang bernafsu melanjutkan drama ini. Kenapa? Nanti aku jelaskan di bawah.

3. Akting Memukau para Pemain

Seperti yang sudah aku list di atas, banyak sekali pemeran yang terlibat dalam drama ini. Ceritanya memang sekompleks itu, yeorobun. Masing-masing tokoh punya cerita yang membangun alur satu kesatuan utuh. Meski tetap tokoh utamanya adalah Ratu Hwaryeong, Ibu Suri dan Raja Lee Ho.

Konflik-konflik yang terjadi di sekitar tokoh utama ini semakin penuh warna dengan adanya support cast yang aktingnya tidak kalah keren.

Memang, Kim Hye Soo harus mendapat perhatian dan penghargaan khusus untuk perannya yang luar biasa, outstanding, sebagai Ratu Hwaryeong. Tampil sebagai karakter yang dominan, tangguh, kuat, namun punya sisi lembut dan sangat keibuan, menurutku tidak mudah. 

Tapi Kim Hye Soo bisa merepresentasikan karakter ini dengan cantik sekali. Dari bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi dan aksentuasi suara, edaaan! Aku wes ndak bisa berkata-kata. 

Pemain lainnya, seperti Ibu Suri yang diperankan oleh Kim Hae Sook, juga tidak mau kalah. Terakhir aku nonton aktris senior ini belum lama, di drama Tomorrow bersama Rowoonie yang tayang paruh pertama 2022. Perannya pun sangat berbeda. Di Tomorrow jadi tokoh protagonis yang menghibur abis, di Queen’s Umbrella jadi iblis durjana yang sangat bengis.

Aktor yang tidak kalah menarik tentu saja Moon Sang Min a.k.a Seongnam. Jujurly, awalnya aku pesimis dengan aktor kelahiran 2000 ini. Mianhae Sang Min-ssi. Masih rookie banget. Ini memang bukan drama pertamanya. Tapi baru di sini Moon Sang Min jadi tokoh penting dengan peran mayor.

Moon Sang Min ternyata keren juga aktingnya, batinku. Harus kuakui, Sang Min pintar memilih peran. Apalagi pas doi akhirnya diangkat jadi Putra Mahkota. Beuh, damage-nya parah! Bener-bener nggak ada obat! 

putra mahkota seongnam

Berkat penampilannya yang memukau, Sang Min berhasil merebut perhatian publik lewat akting sekaligus visualnya yang aduhai tampan rupawan. Tahan Al, jangan tergoda, jangan oleng! Inget, udah punya Baekhyun ama Rowoon!

Kalau soal visual jangan ditanya lah. Pasca booming di drama ini, Sang Min dikabarkan langsung diserbu 20 tawaran iklan. Banyak 'kan? Yah, ini bukti kalau visualnya memang menawan. Ditambah lagi dramanya juga sedang hype, tidak hanya di Korea Selatan, tapi juga di berbagai negara termasuk Indonesia Raya tertjintaahh…

Tapi soal akting, sebagai aktor rookie kemampuan Sang Min memang menjanjikan. Aku kurang tahu pastinya, tapi sepertinya doi masih kuliah sih. Jurusan Akting di Universitas Sungkyunkwan. Makanya tidak heran kalau aktingnya bagus. Ya karena fokus studi di bidang itu. Walaupun dirinya mengawali karir di dunia entertainment sebagai model.

Next, ada lagi yang aktingnya daebak dan patut diacungi jempol. Ok Ja Yeon dan anaknya, Chani SF9. Kalau lihat ekspresinya Ok Ja Yeon a.k.a Selir Hwang ketika marah, takut atau tegang, duh aku merinding, yeorobun. Keren abis. Cuma satu kalimat, kok bisa gitu ya?

Si Chani juga begitu. Setahuku, ini adalah peran pertama Chani sebagai tokoh antagonis. Si 'bayi kesayangan' Rowoon di SF9 ini sudah main film sejak kecil lo. Tapi baru kali ini dia jadi tokoh villain. Dia berani ambil peran yang sangat berbeda dengan image dirinya yang selalu jadi anak baik-baik. Good job uri maknae! We're proud of you, Chani-ssi.

uiseong gun (chani sf9)

Terbiasa lihat Chani jadi maknae di grupnya, yang selalu dimanjakan hyung-hyungnya, aku sebetulnya agak kaget lihat dia jadi orang yang sangat shibal sekkiya dan menjengkelkan di drama ini. Jahat banget malah. Tapi ya itulah kerennya Chani. Dia bisa memerankan tokoh apapun dengan baik.

So far, selain nama-nama yang aku ulas di atas, masih banyak pemain lain yang bagus-bagus aktingnya. Pokoknya untuk urusan akting drama ini ketje badai lah!

Kalau dibahas semua bisa jadi setebal skripsi, yeorobun. Coba tonton sendiri deh. Pasti kamu akan terpesona dengan para pangeran tampan yang aktingnya mengagumkan. Atau malah terheran-heran dengan banyaknya selir raja. Gila, semua selir raja dikasih lihat ke penonton. Sepuluh lo istrinya! Ckckck…

Kekurangan Drama Under The Queen's Umbrella

Drama ini memang berhasil menyita perhatian global dan tidak salah kalau banyak yang menilai drama ini sempurna. Tapi, sebagai penikmat drakor dan penggemar oppa-oppa, tetap ada beberapa hal yang menurutku kurang dan 'gak sreg' di hati.

Pertama, seperti yang sempat aku singgung di atas, ending drama ini menyisakan perasaan hampa dan kecewa. Baru kali ini aku nonton drama yang ending-nya terkesan sangat tanggung dan dipaksakan.

Biasanya, kalau karakter villain meninggal itu kan rasanya lega atau puas gitu ya? Ini enggak. Justru pas Ibu Suri meninggal aku malah sedih. Hampa… Meninggalnya bunuh diri. What? Seriously? Come on dude, akhir bunuh diri itu terlalu terhormat untuk karakter iblis durjana, menurutku.

kematian ibu suri

Next, ayah Selir Hwang dibunuh oleh Tabib Kwon. Tabib Kwon lalu dibunuh Uiseong. Ujungnya, Uiseong dan Selir Hwang dihukum dengan pengasingan serta dikeluarkan dari silsilah kerajaan. Sayangnya, Selir Hwang depresi karena tekanan batin yang begitu hebat.

Bayangkan, dia sudah cinta mati dengan Tabib Kwon. Eh, ternyata cuma dimanfaatkan oleh pria yang dicintainya itu untuk menanam benih keturunan demi balas dendam dan merebut tahta—walaupun akhirnya gagal juga sih.

Tabib Kwon adalah Pangeran Agung dari mantan ratu yang digulingkan. Dan, Selir Hwang tidak tahu fakta ini.

Ayahnya lalu mati di tangan pria itu. Lalu, baru saja ia menyadari fakta sebenarnya, tiba-tiba anaknya menusuk pria itu di depan matanya sendiri. Buset dah, rumit amat ini jalan hidupnya. Sungguh gambaran keluarga yang penuh intrik dan tidak bahagia. Gak kebayang gimana perasaan Selir Hwang, yeorobun.

selir hwang

Tbvh, aku kurang suka ending seperti ini. Kalau happy ending ya happy aja. Atau, kalau sad ending ya sad aja. Gitu lo. Tidak perlu dipaksa mengharu-biru seperti ini. Tanggung jadinya.

Ada lagi… Scene penutup drama ini sebetulnya bagus ya, mengharukan begitu. Seongnam berjalan berdampingan dengan Ratu Hwaryeong di istana. Digambarkan saat itu sedang turun hujan dan Seongnam memayungi ibunya.

Lalu sejenak flashback ketika Ratu memayungi Gyeseong dan Won Son (ponakan Seongnam) . Kalau aku nangkepnya sih sebetulnya scene ini ingin menegaskan tentang maksud judul 'di bawah payung Ratu'. It's okay…

Yang bikin 'nggak sreg' adalah scene sebelumnya. Persis sebelum scene payung-payungan ini ada adegan ketika Ratu berlarian (lagi) di istana demi mengejar Ilyeong yang berulah (lagi). Padahal sebelum ini ada adegan mengharukan ketika Gyeseong pamit meninggalkan istana untuk menjalani hidup sesuai jati dirinya sendiri (if you know what I mean).

Urutan adegan-adegan di ending ini jadi terkesan kejar-kejaran. Vibes-nya kayak 'njomplang' alias kebanting. Habis seneng-seneng lihat Seongnam dan Cheongha mesra, lalu sedih karena Gyeseong pergi, lalu kocak karena Ilyeong berulah, lalu mengharukan ketika Seongnam payung-payungan dengan Ratu. 

Menurutku, urutannya agak berantakan. Alhasil, yang indah hanya bagian payung-payungan antara Seongnam dan Ratu. Vibes ending mengharu-biru tidak terbangun dengan baik. Jujur, aku kurang menikmati ending drama ini. 

Kenapa harus dibuat seperti itu? Wae geurosimnikka PD-nim? Kenapa terkesan memaksa imnikka? Tanggung sekali imnikka. Apakah mengejar rating imnikka? Sayang sama muka gantengnya Seongnam imnikka… Akhh penonton kecewa imnikka!

Ending drama ini harusnya bisa lebih berkesan mendalam, lebih dari sekedar mengharukan, jika akhir masing-masing tokohnya ditegaskan, mengingat konflik drama ini sudah se-complicated itu sejak awal.

Kedua, Seongnam ceritanya berhasil jadi Putra Mahkota di episode 11. Nah, aku mulai curiga nih kenapa dia dijadikan Putra Mahkota di episode seawal itu? Padahal masih tersisa lima episode. Mau ngasih kejutan apa lagi nih tvN?

Ternyata, lima episode setelahnya menceritakan perjuangan Seongnam mempertahankan tahta sekaligus mengungkap fakta kematian kakaknya. Ditambah lagi pemberontakan Tabib Kwon yang ingin balas dendam serta merebut tahta Raja.

Yang bikin aku kecewa adalah di episode 13 terungkap kalau ternyata Tabib Kwon adalah Yi Ikyeon, satu-satunya anak mantan Ratu Yoon yang digulingkan. Plus, ternyata Tabib Kwon ini adalah bapak kandung Uiseong Gun.

Aku sudah menebak ini sejak episode awal-awal, yeorobun. Jadi ketika fakta ini terungkap, aku merasa bukan kejutan. Nggak kaget lagi. Jatuhnya jadi plot twist yang tidak benar-benar twist. Bisa dipahami nggak?

Kok tumben sih tvN bikin plot twist yang bisa ditebak begini? Padahal dari episode 1 sampai 13 semua sudah berjalan dengan sangat baik. Banyak plot tidak terduga yang bertebaran di sana. Tapi di akhir episode 13, aku tiba-tiba kurang berselera, kurang berminat, kurang bernafsu untuk melanjutkan. Alur yang sudah terbangun dengan cantik dan rapi di episode-episode sebelumnya jadi terasa sia-sia.

Ketiga, pemberontakan yang dilakukan oleh Tabib Kwon a.k.a Yi Ikyeon kurang greget. Kurang heboh untuk bisa menggemparkan pertahanan istana. Kalau memang sudah dua puluh tahun direncanakan, harusnya momen kudeta ini menjadi sesuatu yang menggelegar dan fenomenal, minimal bagi Tabib Kwon sendiri.

tabib kwon

Sayangnya, sepanjang drama aku tidak melihat adanya aksi yang berarti dari pasukan pemberontak yang ada di pihak Tabib Kwon. Serius mau menyerbu istana dengan orang cuma segitu dan hampir tidak tampak kekuatannya? Cari mati namanya.

Taktik dan strategi pemberontakannya kurang mantap. Bahkan rasanya aku tidak melihat scene yang menunjukkan Tabib Kwon menggerakkan pasukan pemberontak. Dia terlalu sibuk sendiri di istana dengan urusan balas dendam kematian kakaknya. Alhasil, pasukan malah digerakkan oleh bawahannya.

Keempat, tapi yang satu ini masih bisa dimaklumi. Diceritakan bahwa Seongnam tinggal di luar istana semasa kecil. Sampai episode 11, masih belum jelas penyebabnya kenapa harus dibesarkan di luar istana.

Tepat ketika akan diangkat menjadi Putra Mahkota, muncul rumor bahwa Seongnam bukan anak kandung raja. Di sinilah fakta terungkap. Seongnam diambil oleh Ibu Suri setelah dilahirkan dan langsung diasingkan ke luar istana. Alasannya karena Seongnam lahir ketika masa berkabung, yaitu tidak lama setelah Raja sebelumnya mangkat.

pembuktian dna

Alasan ini menurutku agak aneh. Aku ngerti, memang kita harus menghormati Raja yang sudah mangkat sehingga kelahiran di masa berkabung dianggap tidak sopan, bahkan aib. Tapi, Seongnam sudah ada di perut Ratu sejak Raja terdahulu masih hidup. Lahirnya saja yang di momen tidak tepat. Timing-nya yang nggak pas.

IMHO, alasan seperti ini bukan sesuatu yang besar, sesuatu yang 'wow', untuk disembunyikan bertahun-tahun lamanya. Harusnya, alasan Seongnam tinggal di luar istana dibuat lebih heboh. Misalnya, dia lahir tepat setelah Raja mangkat sehingga membawa ramalan buruk yang mengancam tahta Raja berikutnya. Atau yang lebih heboh lagi, ternyata Seongnam adalah saudara kembar Putra Mahkota, misalnya(?).

Jadi worth it gitu harus disembunyikan, harus jadi misteri, harus menunggu bertahun-tahun dan menanti sebelas episode, untuk tahu fakta sebenarnya. Biar nggak jadi oalaah, ternyata karena lahir pas masa berkabung. Segitu doang? Walah, aku pikir kenapa. Seperti itu.

Tapi ini bisa dimaklumi. Masih bisa ditoleransi.

Yang menurutku benar-benar tidak bisa ditoleransi adalah ending-nya. Seperti yang aku jelaskan panjang lebar di atas. Ending yang menyisakan rasa hampa dan kecewa. Ampun dah, cerewet amat emak-emak milenial satu ini yak, haha.

Pelajaran Penting dari Drama Under The Queen’s Umbrella

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, drama Queen’s Umbrella ini memberikan pelajaran berharga kepada penonton, khususnya tentang parenting. Kalau mau dikupas lebih dalam, drama ini bisa jadi salah satu serial yang berani mengangkat isu patriarki di Korea, yang sebetulnya sudah mendarah daging sejak zaman dahulu kala.

Tidak banyak tontonan Korea yang berani melawan isu sensitif seperti ini, yeorobun. Aku jadi ingat film Kim Ji Young beberapa waktu lalu. Film ini juga mendapat kecaman publik lantaran dianggap menyalahi aturan budaya di Korea yang menempatkan perempuan selalu di bawah laki-laki.

Serupa dengan Kim Ji Young, drama Queen’s Umbrella ini menitik beratkan pada perjuangan wanita hebat. Bahwa wanita juga punya kekuatan dan bisa membuat perubahan besar. Ratu Hwaryeong bukan hanya punya peran dominan di istana. Tapi digambarkan punya andil besar melawan patriarki kolot di Joseon melalui pengasuhan kepada anak-anaknya sekaligus peran sebagai Ratu di sebuah negara.

Contoh, Ratu membangun semacam LSM khusus perempuan—maaf aku lupa namanya, Hyeowolgak atau apa gitu—yang menampung dan memelihara para wanita kasta rendah atau tertindas supaya bisa bangkit dan mandiri. Di sini mereka diberi keterampilan, dilindungi dan diperlakukan dengan pantas sebagaimana manusia pada umumnya yang punya hak hidup. Keren banget emang Ratu satu ini.

Di kesempatan lain, Ratu akhirnya juga bisa menerima perempuan kasta rendah yang dicintai putranya, Muan Daegun. Padahal secara hukum adat, keluarga kerajaan tidak boleh menikah dengan perempuan dari kalangan rakyat jelata. Tetapi dengan keyakinan dan percaya diri, Ratu mengatakan, “Kalau Yang Mulia Raja mengizinkan, Pangeran Muan akan menjadi contoh pertama kali di kalangan keluarga kerajaan yang menikah dengan non bangsawan.”

Banyak sekali hikmah dan pelajaran dari drama ini. Selain mendobrak budaya patriarki, ada beberapa poin penting yang ingin aku garis bawahi.

1. Parenting dan Perjuangan Ibu untuk Anaknya

Drama ini menunjukkan banyak sekali kisah yang terjadi antara ibu dan anak. Entah Ratu Hwaryeong dengan para Pangeran Agung, Ibu Suri dan Raja Lee Ho, selir dan para pangeran, bahkan mantan Ratu Yoon dengan putranya.

Bahwa setiap ibu (dan orang tua) yang waras pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Karena itulah anak-anak dididik sedemikian rupa, walaupun dalam prosesnya setiap orang punya cara masing-masing. Ada yang menempuh jalan lurus, ada yang memilih berbuat licik demi ambisi orang tua semata.

Kalimat penting yang begitu membekas di kepalaku adalah kata-kata Ratu Hwaryeong kepada Selir Tae.

Bukan tugas orang tua untuk meluruskan jalan anaknya, tetapi orang tua harusnya memberi tahu jalan yang telah dia tempuh agar anak-anaknya tidak mengambil jalan yang sama (jika orang tuanya pernah tersesat).

bogum gun dan selir tae

Drama ini juga mengingatkanku bahwa ibu punya peran besar dalam membentuk pondasi karakter dan pendidikan anak. Punya andil besar juga untuk mengayomi seluruh anggota keluarga. Bayangkan, ada sembilan selir raja, belasan pangeran, tapi Ratu tidak pilih kasih. Semua diperlakukan sama dan mendapat naungan di bawah 'payung' ratu.

2. Kekuatan Persaudaraan dan Kekeluargaan

Seongnam punya ikatan batin yang kuat dengan adik-adik dan kakaknya. So sweet menurutku. Memang sudah selayaknya sesama saudara saling mendukung dan mengingatkan demi kebaikan masing-masing.

Yang bikin kagum yaitu Seongnam rela mengorbankan dirinya demi memenuhi janjinya kepada sang kakak untuk melindungi adik-adik dan keluarganya. So touching, yeorobun. Terlihat sekali bagaimana kasih sayang Seongnam begitu besar kepada adik-adiknya.

3. Menerima Diri Sendiri

Dari Gyeseong Daegun aku belajar tentang menerima jati diri. Dia memang punya jiwa perempuan. Ratu Hwaryeong pun sempat denial begitu mengetahui rahasia yang dipendam anaknya ini.

Tapi percayalah, Gyeseong pun pasti melalui perjalanan panjang dan tidak mudah untuk menerima kondisi dirinya. Sampai nangis lo waktu Gyeseong marah karena ruang rahasianya dibakar Ratu, walaupun itu dilakukan demi melindungi Gyeseong sendiri. Alih-alih murka, Ratu justru mengajak Gyeseong membuat lukisan dirinya dalam balutan hanbok layaknya perempuan.

Keputusan ini sebetulnya bukan hanya bentuk penghiburan Ratu kepada Gyeseong. Tetapi Ratu sedang berusaha menerima, memahami dan memvalidasi perasaan anaknya.

Oiya, scene ketika Gyeseong pamit untuk meninggalkan istana juga terasa sangat emosional. Mataku rasanya panas di scene ini. Mewek huhuhu…

4. Ambisi bisa Mengubah Seseorang

Awalnya aku mengira Tabib Kwon adalah karakter protagonis yang pro Ratu. Tapi setelah tahu yang sebenarnya, ternyata Tabib Kwon sengaja membunuh Putra Mahkota pelan-pelan dengan racun selama menjadi tabib pribadinya.

Tabib Kwon ini awalnya adalah korban dari keserakahan dan ambisi egois Ibu Suri Ratu. Tetapi ia dibutakan oleh dendam. Akhirnya Tabib Kwon pun hilang arah. Ambisinya untuk balas dendam justru menjadikan dirinya sama seperti Ibu Suri. Pembunuh. 

Miris memang tokoh satu ini. Satu-satunya tokoh abu-abu, tidak protagonis, pun tidak antagonis. Ending yang menimpanya pun tragis. Mati di tangan anak kandungnya sendiri, karena kesalahpahaman yang tidak diluruskan sejak awal.

Conclusion

Yeorobun, Under The Queen's Umbrella bisa jadi salah satu drama sageuk terbaik yang pernah ada. Plot, point of view, storyline dan sinematografi tingkat tinggi drama ini membuatnya layak mendapat tempat khusus di hati para penggemar.

Sayangnya, ending drama ini menyisakan perasaan hampa dan kecewa bagiku. Eksekusi ending-nya terkesan memaksa, tanggung dan kurang membekas, jika mengingat konflik drama yang begitu rumit dan kompleks.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, drama ini mengajarkan banyak hal kepada penonton. Terutama tentang mengasuh anak dan perjuangan seorang ibu.

Aspek-aspek lainnya menjadi pemanis sepanjang 16 episode drama ditayangkan. Seperti akting para pemain yang luar biasa dan tentu saja visual memukau Seongnam Daegun yang mencuri banyak perhatian publik.

Sekian ulasan drama Under The Queen's Umbrella ini. Aku memberi skor 9/10 untuk keseluruhan aspeknya. Meski bagus, bagiku drama ini masih belum bisa menggeser Mr. Sunshine dari tahta tertinggi drama Korea terbaik yang pernah aku tonton. Bagaimana menurutmu? Ceritakan di kolom komentar, ya! Annyeong…

Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. Fans of EXO & SF9. We are one, 사랑하자!

Related Posts

19 comments

  1. Saya paling suka genre film berlatar kerajaan kuno macam ini. Tapi lihat jumlah episodenya langsung mikir deh... Berapa hari ini selesainya? Tapi karena ratjoen dari blog ini, baiklah, aku masukkan watch-list ku akhir pekan ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nontonlah, pak dokter 😁 ini kalo aku yang maraton, bisa 2 hari tuntas sih.. Hehe. Tapi kemarin aku ngikutin ongoing, jadi ya 8 minggu baru kelar, sesuai jadwal tayangnya hehehe

      Delete
  2. Aku belum nonton. Mau dimasukkin list nonton drakor tapi dah kurang waktunya. Cukup kayaknya baca review ini juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kalo pas free bisa banget ditonton mbak, bagus kok. Banyak ilmu parentingnya ya hihihi...

      Delete
  3. Waahhh.. sy baru lihat yg seri 1, malah dapat semi spoiler disini.. lanjutt ga yaaa nontonnya... 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm?? Seri 1? Ini gak ada seri-serian deh mas kayaknya.. Alchemy of Souls tuh yang ada seri-serinya.. Hihihi

      Delete
  4. Wait, aku lebih tertarik Baca review filmnya daripada nonton. Baca gini bisa selesai sekali duduk. Tapi kalau nonton bisa makan tidur penasaran doank. Apalagi 16 episode.

    Aku suka kalau ayang rawon (duh duh image udah melekat 😂) yang bahas kdrama, pas gitu. Ada curhatnya juga, ada kocak ya, ada mencelanya juga wkwk. Lanjutkan ayank Rawon eh.. (susah lho nulis Rowoon itu, rawon ini gampang) wkwk

    Ditunggu next review kdrama lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ro Woon. Kim Ro Woon.. Bukan rawon yaa 😌😌

      Tapi vibesnya kalo nonton langsung ama baca reviewnya tuh beda boend. Atau mau nonton drama yg lain? Dramanya ayang akuu juga bagus loo, heheh

      *sebarkan ratjoen seluas-luasnya hahhaha

      Delete
  5. Under The Queen's Umbrella ini beberapa waktu lalu dah masuk daftar tunggu jtnuk dilihat. Ternyata dah ada reviewnya di sini. Makin mudah buat ngikuti alurnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo nonton Appa... ayo ayoo... hehe
      bagus kok, meskipun aku gak suka sama endingnya, haha
      tapi banyak ilmu parentingnya sih di drama ini :D

      Delete
  6. Emang sih endingnya rada gimana gitu. Yg bikin ngga puas emang ending ibu suri. Setelah semuanya dia berakhir bunuh diri... Kurang sengsara sekali. Overall bagus semua memang bener endingnya kayak ada rasa hampa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kaan.. aku tuh juga ngerasa gimana gitu, gak puas sama endingnya... padahal dramanya udah bagus huhu.. apalagi seongnam daegun bikin oleng astagaaa

      Delete
  7. Ulasannya keren banget....tapi ending nya kenapa nyesek begitu yaa...saya suka drakor karena totalitas nya ..betul banget sinematografi nya banyak yang keren banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo soal sinematografi drama ini udah baguus banget sih, gak heran kalo banyak yang suka, hehe... storyline nya juga bagus, cuma endingnya aja yang kurang memuaskan

      Delete
  8. Meski pas kemarin2 IG story dan WA story ku penuh dengan drama ini, almost pada nonton semua wkwk aku belum sempet nonton :( padahal katanya ilmu parentingnya bagus. Semoga soon bisa nonton dengan seksama ^^ jadi ada gambaran juga abis baca ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaak, ini tuh emang kehidupannya emak-emak banget, banyak ilmu parentingnya.. sampe aku heran, kok ada sih ibu sekuat jungjeon mama, bisa aku pinjem bentar gak sih kekuatannya wkwkwk

      yook, nonton kapan-kapan... mumpung mau liburan akhir tahun nih hihi :D

      Delete
  9. Hey, anda terbilang banyak menyebut Rowoon oppa di tulisan ini yha...
    Padahal blio gak main di drama Under The Queen's Umbrella.

    Hahha..

    Selow dikit yaak~
    Akupun kuciwa sama ending Under The Queen's Umbrella. Rasanya sesak di dada bukannya blass... tapi malah makin sesak. Tapi plot dramanya makin anjlok sejak putra mahkota meninggal. Kayak hilang fokus aja gitu..

    Seneng siih, Seongnam naik tahta...
    Tapi trus jadi kejer-kejeran sama pelaku which is tabib kerajaan yg dulunya adik putra mahkota tuh kaya erggg... ((kumur-kumur))

    Yha, tapi overall......drama ini selesai dengan smooth.
    Akhirnya Putri mahkota hamidun.. dengan segala ketidakmungkinannya.
    Yaassshh~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.. Maklum bucin akut begini nih. Hahaha. Apa2 disangkut pautin sama ayang..

      Bener banget mbak, sejak putra mahkota meninggal tuh jadi kurang fokus gitu ya emang. Endingnya bikin aku nyesek, paling gak tega liat uiseong gun.. Uri chanhee harus begitu hidupnya, andwaeee huhuhu. Sini dek, kembali ke pelukan noona :( *ehh, ngaku2 noona ipar

      Tapi emang yg daebak banget tuh aktingnya jungjeon mama ya eonn, huwaww totalitas tanpa batasss keren banget. Ini mama milenial zaman now yg patut ditiru gaya parentingnya..

      Delete
  10. Saya sih belum pernah nonton drakor yang ini, tapi memang banyak teman yang bilang endingnya tidak sreg

    ReplyDelete

Post a Comment