admasyitoh.com

[Part 2] Isolasi Mandiri: Bagaimana Rasanya dan Apa Saja yang Dilakukan?

Terhitung sejak tanggal 7 Juli sampai 17 Juli 2021 lalu, saya resmi menjalani isolasi mandiri. Anggota keluarga yang lain, yaitu anak dan suami, juga harus menjalani karantina karena kontak erat dengan saya. Untungnya, waktu itu suami kebetulan jadwalnya WFH. Jadi bisa bekerja sambil momong anak kami yang masih berumur 1 tahun.

Selama menjalani isolasi mandiri (isoman), banyak hal yang saya alami. Pengalaman fisik, psikis hingga religius. Meski sempat tidak percaya, denial, tapi akhirnya saya bisa berdamai dengan takdir dan menjalani ikhlas. Tidak ada beban. Sampai hari terakhir isoman, semua berjalan dengan baik. Nah, di postingan ini saya ingin berbagi pengalaman tersebut. Semoga bisa menambah informasi, menjadi pelajaran, atau paling tidak menjadi penyemangat bagi pembaca yang mungkin saat ini sedang berjuang melawan virus Covid-19 ini. 

Menerima Kenyataan dengan Ikhlas dan Sabar

Pertama kali yang harus dilakukan ketika terdiagnosis atau terkonfirmasi positif Covid-19 adalah menerima dengan ikhlas dan sabar. Denial atau ragu, syok dan tidak percaya wajar sekali dialami. Apalagi kalau kita merasa tidak pernah kontak dengan pasien, sudah menaati prokes dengan baik, dan tidak pernah keluar rumah. Saya mengalami itu semua. Saya dan keluarga rasanya sudah sangat hati-hati. Sudah sangat membatasi interaksi langsung dengan orang lain. Bahkan mungkin para tetangga berpikir kami orang yang anti sosial dan tertutup, saking jarangnya kami muncul di lingkungan sekitar. Jadi, ketika saya terdiagnosis positif, kami sempat ragu. Ah, nggak mungkin. Kok bisa? Ketularan dari mana coba? Begitu pikir kami waktu itu. 

Tetapi, semakin denial justru membikin saya emosi dan geregetan dengan virus ini. Semakin saya jengkel dibuatnya. Dan akhirnya malah membuat kemarahan saya berlarut-larut, yang tentu tidak baik bagi kesehatan terutama psikis atau mental. Karena itu, yang pertama kali harus dilakukan adalah penerimaan. Terima kenyataannya kalau kita memang positif. Akui bahwa virus ini sedang hidup di dalam diri kita. Akui bahwa kita sedang terinfeksi. Toh sudah terlanjur. Positif covid-19 bukan aib (masih ada yang menganggap aib kah?). Semua orang, siapa saja, bisa terinfeksi. Jadi tidak perlu malu mengakui. Memang sulit dihindari. Terus mau bagaimana lagi. Tidak ada orang yang mau sakit, tapi kalau sudah takdir, kita bisa apa selain menerima. Marah, kecewa dan stres tidak ada gunanya. Lebih baik fokus pada langkah selanjutnya. Terima saja dengan lapang dada, legowo. Lalu ikhtiar, berjuang semaksimal mungkin untuk sembuh. Kuncinya adalah sabar, sabar dan sabar. 

Anosmia Selama Beberapa Hari

Sebelum positif, saya sudah sering membaca, sering mendengar juga bahwa salah satu tanda yang umum sekali dialami oleh orang yang positif adalah anosmia. Kehilangan indra penciuman. Pasti sudah tidak asing 'kan? Sudah hampir dua tahun dunia diselimuti pandemi. Anosmia bukan istilah yang asing lagi. 

Begitu sadar mengalami anosmia, saya langsung memulai isoman. Itu menjadi hari pertama saya bertempur dengan virus ini. Tiba-tiba mengalami anosmia rasanya memang tidak nyaman dan aneh sekali. Seperti seperti ada yang janggal dalam hidup. Punya hidung, ada lubangnya, tidak buntu, tapi tidak bisa membau. Benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Benar-benar tidak bisa membau sama sekali. Blass... Nggak ada bau-bau yang bisa dideteksi, meskipun hidung sudah mengendus-endus nempel ke sumber bau. Hari kedua masih sama seperti sebelumnya. Tidak bisa membau apapun. Belum bisa mencium aroma bawang dan cabe yang ditumis. Hari ketiga masih belum ada perubahan. Baru di hari keempat secerca harapan tumbuh. Bau 'nyegrak' minyak kayu putih sedikit mulai tercium menusuk hidung. Itu pun harus dioleskan dulu di hidung--dan ini panas ya di kulit, tapi demi kembali normal saya jabanin aja, sampai merah dan perih cuping hidung saya. Tetapi bau-bau yang lain masih belum bisa terdeteksi. 

Hari kelima, semakin membaik. Tidak hanya minyak kayu putih, saya mulai bisa mencium minyak telon, minyak rambut, baby oil, sampai minyak tawon. Walaupun masih harus menempelkan sumber bau ke hidung, tetapi kemajuan sekali karena sudah bisa mencium beberapa bau. Hari keenam semakin membaik lagi. Saya sudah bisa membedakan aroma-aroma yang biasa ada di sekitar saya. Dan setelah seminggu hidung saya kembali, meski belum normal seratus persen. Hampir semua yang mengeluarkan aroma khas, atau bau apapun, bisa saya endus tanpa harus ditempelkan dengan hidung. Ketika mandi dan bisa mencium kembali wangi sabun dan sampo, subhanallah gembira sekali. Saking bahagianya sampai mbrabak mata saya. Terharu. Agak lebay ya, tapi ini sungguh-sungguh yang saya alami. Tidak bisa mencium bau apapun rasanya hidup seperti hampa. Saya masih beruntung karena hanga mengalami anosmia, tanpa ageusia. Lidah masih normal, bisa merasakan makanan dengan baik seperti biasa. Saya tidak bisa membayangkan mereka yang mengalami anosmia dan ageusia sekaligus. Pasti lebih hampa hidupnya. 

Nah, ada yang menarik tentang anosmia ini. Selain terjadinya yang tiba-tiba, benar-benar datang tak diundang, kabarnya orang yang positif lalu anosmia biasanya tidak akan mengalami gejala lain yang lebih berat. Dari berbagai artikel yang saya baca, serta penuturan teman-teman nakes, pasien-pasien bergejala berat yang sampai dirawat di ruang ICU, hampir tidak ada ada yang merasakan anosmia. Sebagai orang awam saya tidak tahu apakah ini fakta atau mitos, bagaimana penjelasannya secara ilmiah dan bagaimana korelasinya antara anosmia dengan gejala ringan atau berat. Namun, sebagai alumni Covid-19 saya memang mengalami gejala ringan, yaitu anosmia saja selama beberapa hari. Dan alhamdulillah tidak ada gejala lain yang lebih berat yang saya alami. 

Untuk mempercepat pemulihan gejala anosmia, saya juga berlatih membau. Sehari dua kali, pagi dan sore, saya rutin berlatih dengan cara mengendus aroma-aroma yang familiar seperti minyak kayu putih, minyak telon, minyak tawon, parfum bayi, lotion, jeruk nipis, hingga cairan karbol (dengan hati-hati agar tidak sampai terhirup). Dari sumber yang saya baca, dengan berlatih mencium bau, hidung akan bekerja lebih keras dan otak akan dipaksa untuk mengingat kembali memori akan aroma-aroma familiar yang biasa kita cium. Terapi ini kabarnya bisa mempercepat pemulihan anosmia. Kadang-kadang, saya juga menyelipkan tisu yang dibasahi minyak kayu putih ke dalam masker. Upaya ini cukup membantu karena aroma yang tajam dari minyak kayu putih akan seketika menusuk hidung begitu terhirup. Meskipun masih samar-samar baunya tetapi ada sensasi plong ketika hidung menghirupnya. Saking semangatnya latihan mencium bau, hidung sampai panas dan agak perih karena terlalu banyak ditempeli minyak kayu putih yang notabene panas di kulit. Mata tidak jarang menangis pula dibuatnya. Tertarik mencoba? Hihi. 

Fokus Meningkatkan Imunitas Tubuh

Seperti yang sering kita dengar, Covid-19 ini sebetulnya bisa sembuh sendiri karena kita memiliki sistem kekebalan tubuh yang akan melawan virus. Seperti halnya flu biasa. Virus yang masuk akan dikalahkan oleh sistem imun. Jadi, yang perlu dilakukan adalah memperkuat sistem imun tubuh itu sendiri. 

Tidak perlu mengonsumsi obat macam-macam jika memang tidak ada gejala yang parah. Kalau demam dan nyeri, cukup konsumsi paracetamol. Saya sendiri selama isoman tidak pernah minum paracetamol, walaupun sudah menyiapkan stok. Karena memang hampir tidak mengalami demam, nyeri dan sebagainya. Alih-alih paracetamol, saya lebih banyak mengonsumsi suplemen untuk menguatkan sistem imun. Setiap hari rutin minum kapsul vitamin C 500mg dan vitamin D 5000 IU. Saya juga tidak ngawur mengonsumsinya. Tentu setelah konsultasi dengan tenaga kesehatan yang juga selalu memantau kondisi saya dari jauh. 

Bagaimana dengan berjemur? Bisa. Berjemur langsung di bawah sinar matahari pada dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan kadar vitamin D yang diproduksi dalam tubuh. Vitamin ini juga penting untuk menjaga sistem imun. Tetapi karena kondisi pandemi yang parah di sekitar saya, berjemur di luar rumah justru akan memperbanyak peluang kontak dengan orang lain sehingga berpotensi saling menularkan virus. Dengan kondisi seperti ini tidak memungkinkan sekali bagi saya untuk berjemur di luar rumah. Sebagai gantinya, saya disarankan untuk rutin minum kapsul vitamin D setiap hari, seperti yang saya sampaikan tadi. 

Menjaga Pola Makan dan Istirahat Cukup

Makan makanan yang bergizi dan seimbang juga penting untuk kesehatan dan kekebalan tubuh. Beruntung saya tidak kehilangan nafsu makan. Di luar sana banyak pasien yang mengalami penurunan nafsu makan ketika positif. Saya justru sebaliknya. Nafsu makan meningkat tajam selama isoman. Nasi yang seharusnya bisa dimakan tiga porsi, hanya cukup untuk dua porsi makan (ini sakit beneran apa gimana, entahlah). Antara doyan dan lebih cepat lapar hampir tidak ada bedanya. Yang jelas, makan apapun rasanya nikmat sekali. 

Selain makanan utama, masih ada juga cemilan, yang selalu 'ready stock' di rumah. Entah buah-buahan, roti maupun biskuit. Dari dulu saya memang suka ngemil. Ketika isoman pun kebiasaan itu tidak berubah. Meskipun banyak yang bilang kalau seharusnya saya mengurangi atau membatasi makanan-makanan manis karena virus ini doyan gula. Tetapi hasrat untuk ngemil tidak tertahan, yeorobun! Asalkan tidak ngemil tengah malam, tidak ada masalah, pikir saya. 

Yang tidak kalah penting juga memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Minimal dua liter air putih perhari. Selama isoman saya lebih menyukai air hangat daripada air dingin atau es. Karena menurut saya pada kondisi normal (tidak anosmia) air hangat mempunyai bau yang khas, tidak seperti air dingin yang tidak berbau. Harapannya dengan minum air hangat bisa mempercepat pemulihan anosmia saya. Setiap sore saya juga rutin minum jahe hangat tanpa gula. Mengingat jahe mempunyai segudang manfaat untuk tubuh, tidak ada salahnya dikonsumsi rutin, di samping memberi efek hangat di tenggorokan dan perut. Sebagai pecinta kopi tanpa ampas, saya juga menghentikan kebiasaan minum kopi selama isoman demi mencegah hal-hal yang tidak diharapkan seperti insomnia hingga jantung berdebar-debar. 

Dan, jangan lupa istirahat yang cukup. Pola makan sudah, kecukupan air putih juga sudah. Istirahat pun tidak boleh disepelekan. Selama isoman saya sebisa mungkin tidur jam 9 malam, maksimal jam 10. Pagi bangun jam 4 subuh. Tidak lupa menyempatkan tidur siang, yah, tiga puluh sampai enam puluh menit lah. Suami juga sangat mengerti kondisi dan kebutuhan waktu istirahat ini, demi pemulihan diri yang lebih cepat. Hampir dua minggu saya juga mengurangi aktivitas fisik yang berat dan bisa menimbulkan kelelahan. Bukan berarti karena harus banyak istirahat jadi malas-malasan. Aktivitas sehari-hari yang sanggup saya lakukan, tetap saya kerjakan seperti biasa. Namun, tidak sekeras dan serajin biasanya. Lebih santai dan kalem agar tidak sampai kelelahan. 

Membatasi Kontak dengan Anak adalah Ujian Lain yang Tidak Kalah Berat

Anak kami masih berusia tiga belas bulan, fase lucu-lucunya. Sudah menjadi naluri anak untuk ingin selalu dekat-dekat dengan ibunya, apalagi jika si anak masih menyusu ASI. Ini juga merupakan cobaan berat bagi saya. Biasanya saya akan menggendong, memeluk dan menciumi anak saya ketika bangun tidur. Makan bersama sambil menyuapinya. Menemaninya bermain, menjawab celoteh-celotehannya, membacakannya buku cerita, memandikan dan lain sebagainya. Ketika isoman saya tidak bisa melakukan semua itu. 

Meskipun masih tinggal di bawah atap yang sama, tetapi saya harus menjaga jarak semaksimal mungkin dari anak. Sering kali anak mendekat, menempel, tetapi saya harus menolak. Kontak hanya terjadi ketika menyusui. Dan itu pun harus benar-benar diusahakan tidak menularkan virus. Aktivitas yang lain, yang biasanya saya lakukan dengan anak secara langsung, sementara waktu harus digantikan oleh suami, apalagi tidak ada asisten atau pengasuh di rumah kami. Saya dan suami harus benar-benar pandai mengendalikan keadaan. 

Keep Positive Thinking demi Kesehatan Jiwa dan Mental

Saya tidak menyangkal kalau pikiran 'macam-macam' itu ada. Pasti ada lah, ya. Seperti bagaimana kalau besok sesak napas? Cari oksigen di mana? Kalau lebih parah besok ke rumah sakit mana? Ada rumah sakit kosong nggak? Bagaimana kalau tiba-tiba drop? Sampai yang paling menakutkan, bagaimana kalau saya besok mati? Apalagi waktu itu tiap hari selalu ada berita duka gara-gara Covid-19, entah broadcast di grup WhatsApp keluarga, teman angkatan sampai Instagram. Yang paling parah dan sempat membuat saya mental breakdown saat itu, ada teman angkatan kuliah yang wafat padahal sehari sebelumnya masih bisa chattingan, meskipun sudah masuk ICU. Tiba-tiba kondisinya drop, kritis dan akhirnya tidak selamat. Virus ini cepat sekali memperparah kondisinya. Sedihnya lagi beliau ini masih pengantin baru dan sedang dalam kondisi mengandung. Janinnya pun tidak bisa diselamatkan (alfatihah untuk beliau). Begitu mendengar kabarnya dari teman-teman, saya terperanjat, langsung diam. Merinding. Kabar duka yang sangat tiba-tiba ini cukup mempengaruhi saya dan membikin overthinking. 

Untungnya dukungan dari suami begitu besar. Begitu pula orang tua yang jauh di kampung dan sahabat-sahabat terdekat yang tidak pernah bosan menghibur dan memberi semangat. Support system ini yang akhirnya membuat akal dan pikiran jiwa saya tetap di jalur yang waras. Membuat saya tetap optimis, positive thinking dan yakin bahwa saya bisa melalui semua ini dengan baik. Tanpa mereka, mungkin saya akan berlarut-larut dalam pikiran suram dan ketakutan yang berlebihan, padahal jelas ini tidak baik untuk kesehatan dan imunitas tubuh. 

Demi mengurangi paparan berita negatif yang seperti datang bertubi-tubi, saya sempat memutuskan untuk 'hibernasi' atau hiatus dari dunia maya. Cukup hidup di dunia nyata dan fokus pada hal yang menyenangkan saja. Saya juga menonaktifkan semua notifikasi grup WhatsApp. Lebih banyak meluangkan waktu untuk menulis, membaca konten positif di blog, hingga melakukan kegiatan yang saya sukai seperti nonton film, drama Korea dan mendengarkan musik. Intinya adalah sebisa mungkin menjauhi distraksi sosial media dan konten-konten yang berpotensi menurunkan semangat dan motivasi. Beberapa hari hibernasi ternyata memang membuat hidup saya lebih menyenangkan, tenang, ceria dan tanpa beban. 

Meningkatkan Kualitas Ibadah

Poin ini sebetulnya masih ada kaitannya dengan poin sebelumnya. Sebagai seorang muslim, saya merasa lebih tenang ketika bisa mengerjakan salat dengan nyaman dan tanpa gangguan. Isoman adalah waktu yang tepat untuk merefleksi ibadah saya selama ini. Saya berusaha lebih khusyuk dan santai mengerjakan salat, lebih sering membaca Al-Quran, pun lebih banyak berdzikir dan salawat. 

Sering kali kita tidak sadar bahwa bisa mengerjakan ibadah dengan leluasa juga merupakan nikmat dan karunia yang besar. Seharusnya kita bersyukur, karena di luar sana masih banyak yang harus sembunyi-sembunyi mengerjakan salat, harus berlomba-lomba dengan meriam untuk melaksanakan ibadah lain. Momen hibernasi menjadi titik tolak bagi saya untuk mengevaluasi kembali ibadah-ibadah yang selama ini saya lakukan. Bisa jadi Allah mencabut nyawa saya sewaktu-waktu, entah besok atau nanti, bukan hanya karena penyakit. Kalau Allah sudah berkehendak dan menetapkan takdir-Nya, siapa yang bisa menghindar? Pandemi, virus, Covid-19 atau penyakit hanyalah salah satu cara atau perantara Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk mencabut nyawa manusia. Tanpa itu semua pun manusia tetap akan menemui ajal pada akhirnya. Karena itu saya mencoba untuk pasrah, tawakkal sambil meningkatkan kualitas ibadah saya sebagai salah satu wujud ikhtiar dan persiapan untuk kehidupan yang lebih kekal. Siapa yang menyangka kalau ternyata isoman juga bisa menjadi salah satu bagian dari perjalanan spiritual kita? 

Hari demi hari, setelah dua minggu saya akhirnya resmi lulus sebagai sarjana Covid-19. Sabar, ikhlas dan tawakkal adalah kunci saya bisa menjalani semuanya dengan baik. Saya termasuk beruntung karena tidak mengalami gejala berat hingga membutuhkan penanganan khusus di rumah sakit. Sekarang, setelah sembuh, tugas saya adalah menunggu vaksinasi. Menurut aturan di Indonesia, penyintas dapat menerima vaksinasi setelah tiga bulan dinyatakan sembuh dan tidak ada gejala. Semoga saudara-saudara yang saat ini masih berjuang melawan virus ini segera diberi kesembuhan, para relawan dan tenaga medis diberi kekuatan, serta Indonesia dan dunia segera bangkit dari pandemi. Aamiin. 


Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. We are one, 사랑하자!

Related Posts

Post a Comment