admasyitoh.com

6 Perbedaan Puasa di Tengah Pandemi dan Situasi Normal

puasa ketika pandemi

Tahun ini adalah tahun kedua kita menjalani ibadah puasa Ramadhan di tengah pandemi. Semua orang tentu saja rindu suasana Ramadhan yang normal seperti dulu, sebelum pandemi mewabah secara global. 

Tahun lalu kita harus salat tarawih di rumah, salat ied secara terbatas dengan prokes tegas, silaturahmi dan anjang-sana-sini dibatasi. Tahun ini rupanya kita masih harus bersabar dan menahan diri lagi.

Ibadah puasa sejatinya memang menahan. Menahan rasa haus dan lapar sepanjang hari. Menahan nafsu dan amarah yang tak jarang tiba-tiba diuji. Menahan tutur kata dan tingkah laku agar tidak menyakiti orang lain. Dan di situasi seperti sekarang ini, menahan rindu untuk berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara di kampung tak pelak juga menjadi ujian yang harus kita jalani. Siapa yang tidak rindu masakan ibu di kampung halaman.

Ramadhan di tengah pandemi memang kadang rasanya berat. Selain berbeda dengan Ramadhan biasanya, karena pandemi tidak sedikit di antara kita yang juga diuji dengan musibah bertubi-tubi, seperti masalah ekonomi dan kesehatan. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama pandemi satu tahun terakhir. Berikut ini adalah beberapa contoh perubahan yang paling nampak dan kita rasakan ketika Ramadhan di tengah pandemi.

1. Tidak bisa beribadah di masjid dengan leluasa

Ibadah di masjid yang paling identik dengan bulan Ramadhan adalah salat tarawih. Bisa jadi momen ini adalah salah satu suasana yang paling dirindukan di bulan Ramadhan. Selain menjanjikan pahala salat jamaah yang berlipat ganda, momen ini juga bisa menjadi sarana mempererat kebersamaan dan kekeluargaan dengan orang-orang di sekitar kita. 

Bagaimana kita berbondong-bondong ke masjid, berkumpul hingga berbincang-bincang setelah salat jamaah turut menambah semarak syiar Ramadhan. Sayangnya, di tengah situasi pandemi tradisi seperti ini sulit bahkan tidak bisa kita lakukan. Demi keamanan dan keselamatan bersama, kita diimbau untuk salat jamaah di rumah masing-masing bersama keluarga. 

Masjid dan surau tidak jarang yang ditutup untuk khalayak ramai. Kalau dibuka pun terbatas untuk kalangan sekitar saja. Tidak hanya salat jamaah fardu atau tarawih, ibadah lain seperti i'tikaf juga tidak bisa kita kerjakan. 

Sebagai gantinya, kita bisa mendisiplinkan diri untuk tadarus Al-Quran dan dzikir di rumah. Selain menguji kemampuan tajwid dan tartil, aktivitas ini juga bisa membuat hati dan pikiran kita tenang. Kapan lagi ngabuburit di rumah sambil memanen pahala bersama orang-orang terdekat yang kita kasihi?

2. Jauh dari keluarga dan kerabat

Kehangatan di tengah-tengah keluarga juga menjadi momen yang selalu dirindukan ketika Ramadhan. Tetapi sejak tahun lalu rasa rindu berkumpul dengan orang tua, adik dan kakak harus ditahan sekuat tenaga demi kebaikan bersama. Terutama bagi kaum rantau, bulan puasa ketika jauh dari keluarga terasa berat dan kadang menyesakkan dada. 

Kalau dulu kita bisa mendengan gedoran pintu ayah ketika membangunkan sahur, sekarang kita hanya bisa mendengar missed call berkali-kali dari ponsel yang selalu standy by di samping bantal tidur. 

Kalau dulu kita bisa request menu buka puasa kepada ibu di rumah, sekarang kita cuma bisa menelan ludah melihat foto menu berbuka yang dikirim ibu di pesan WhatsApp. 

Kalau dulu kita bisa ngabuburit menonton acara tv favorit keluarga dengan adik dan kakak, sekarang kita cukup bercanda tawa melalui panggilan video di layar laptop. 

Kita memang harus sangat bersabar urusan rindu. Nanti ada waktunya kita bisa kembali bersama dalam pangkuan keluarga tercinta. Ketika semua sudah kembali normal seperti sedia kala.

3. Tradisi bukber lagi-lagi harus tertunda

Salah satu penyesalan yang saya rasakan ketika Ramadhan dua tahun ini adalah tidak bisa bertemu dengan sahabat-sahabat untuk berbuka bersama. Bulan Ramadhan yang identik dengam tradisi buka bareng dengan teman dan kolega, kali ini harus tertunda sampai waktu yang entah kapan pastinya. 

Bagi sebagian kita, momen buka bareng bisa jadi adalah satu-satunya waktu yang paling tepat untuk berkumpul kembali dengan sahabat-sahabat tersayang yang sudah lama tidak kita jumpai semenjak lulus kuliah. Terlepas dari bumbu-bumbu dan chit-chat yang menyertai rangkaian acara buka bersama, kumpul-kumpul dengan teman senasib seperjuangan juga bisa menjadi ajang silaturahmi dan bertukar pikiran. 

Siapa tahu ada kawan yang menawari lowongan pekerjaan di perusahaannya. Atau justru kita bisa menggaet kawan yang belum juga dipinang perusahaan impiannya sehingga masih belum memiliki pendapatan tetap. 

Karena situasi pandemi seperti ini, ajang temu kangen dan buka bareng harus dilakukan secara virtual. Tentu saja tanpa acara makan-makan. Nah, hikmahnya adalah kita semakin mengerti makna persahabatan dan betapa berharganya memiliki teman. Selain itu, ajang gosip, pamer dan nyinyir juga semakin berkurang, lho! Betul kan?

4. Tidak ada rutinitas berburu takjil menjelang berbuka

Di bulan puasa jalan-jalan dan gang-gang kampung seperti disulap menjadi pasar atau bazaar. Berbagai macam minuman dingin, gorengan, kudapan manis, hingga kue lebaran, bisa kita pilih sesuka hati. Banyak orang berubah menjadi pedagang dadakan untuk menjajakan jualannya. Tak jarang, jalanan menjadi macet karena riuhnya orang yang berburu menu takjil dan buka puasa. 

Tetapi itu dulu, sebelum pandemi melanda. Dua tahun ini pemandangan seperti itu tidak bisa kita jumpai. Dengan adanya larangan berkerumun dan pembatasan fisik yang membuat kita harus saling menjaga jarak dengan orang lain, kegiatan bazaar dan berburu takjil harus ditiadakan. Tidak hanya bazaar, larangan ini juga berlaku untuk semua kegiatan yang menimbulkan keramaian seperti tasyakuran atau selamatan, maupun majelis taklim dan pengajian. 

Meski demikian, kita tetap bisa menambah wawasan ilmu keagamaan kita dengan menyimak kajian melalui saluran streaming media sosial atau layar tv. Pun dengan hidangan takjil dan berbuka. Kita bisa membuatnya sendiri sekaligus sambil mengasah kreativitas kita di dapur. Kita bisa memadukan buah-buahan, susu, yoghurt dan sirup menjadi salad buah yang dingin dan menyegarkan kerongkongan. Bisa juga ditambahkan es krim atau parutan keju sesuai selera sehingga makin menarik dan kaya rasa. Menarik bukan? 

Banyak resep yang bisa kita modifikasi menurut selera masing-masing. Dengan menyiapkan menu takjil dan berbuka secara mandiri tentunya higienitas hidangan yang kita konsumsi akan lebih terjamin higienitasnya. Tertarik mencoba?

5. Cobaan kesehatan, ekonomi dan sosial

Pandemi global yang sedang melanda ini rupanya berimbas pada sebagian besar sektor kehidupan. Yang paling nampak nyata dan kita rasakan adalah imbas di sektor kesehatan, ekonomi dan sosial. Bagaimana sektor yang lain? Tentu saja ada dampaknya, seperti pada pendidikan, pariwisata, industri, pembangunan, hingga politik. 

Tetapi yang ingin saya garis bawahi adalah kesehatan, ekonomi dan sosial. Karena pandemi ini banyak sekali orang yang penghasilannya berkurang. Bahkan tidak sedikit pula yang harus kehilangan pekerjaan. 

Diakui atau tidak, semakin banyak warga yang kesusahan dan terpuruk kondisi ekonominya. Belum lagi kalau ditambah dengan ujian sakit. Terkonfirmasi positif Covid-19 misalnya. Atau sakit yang lain. Bisa juga orang tua atau saudara yang sakit. Tentu akan semakin menambah penderitaan yang dirasakan. 

Deretan ujian yang menyertai pandemi ini juga berdampak pada kondisi psikis atau mental seseorang. Di bulan puasa yang sarat ujian kesabaran ini, kita dituntut untuk ekstra-lebih-lagi bersabar. Bukan hanya sabar menahan amarah dan nafsu, tetapi juga sabar menghadapi setiap cobaan. 

Nah, yang perlu kita ingat adalah Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan. So, tetap semangat dan optimis yuk!

6. Tidak ada tradisi mudik

Salah satu tradisi yang juga identik dengan bulan Ramadhan adalah mudik atau pulang kampung. Menjelang lebaran Idul Fitri semua orang pulang ke kampung asalnya masing-masing untuk berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. 

Terminal bus, stasiun kereta api, bandara hingga pelabuhan ramai diserbu para pemudik. Jalan-jalan raya juga dipadati angkutan lebaran, baik pribadi maupun umum, roda 4 maupun roda 2. Bahkan, stasiun tivi sampai-sampai harus membuat liputan khusus mudik lebaran. 

Suka cita menyambut kepulangan anak dan kerabat juga tak kalah meriah. Segala macam hidangan dan jajanan dibuat khusus untuk orang-orang tercinta yang akhirnya pulang dari perantauan. 

Sayangnya, tradisi mudik ini harus kita relakan lagi tahun ini. Dua tahun tanpa mudik ke kampung halaman tercinta memang tidak mudah. Tetapi semua ini demi orang-orang yang kita sayangi di rumah. Daripada pulang membawa penyakit dan menularkan kepada keluarga, lebih baik mudik kita tunda dulu sampai situasi yang lebih aman dan kondusif. Berat memang, tapi semua demi kebaikan bersama.

Protokol kesehatan dan pembatasan sosial memang membuat semarak Ramadhan kurang terasa. Tetapi bukankah ini juga termasuk ujian dalam menjalani ibadah puasa di bulan suci ini? Bukankah Allah menjanjikan pahala yang luar biasa bagi hamba-Nya yang mau bersabar? Meski berat, ibadah individu tetap harus semangat dan khidmat. Semoga Allah menguatkan batin dan bahu kita agar segera terbebas dari pandemi ini, ya!

Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. We are one, 사랑하자!

Related Posts

Post a Comment