admasyitoh.com

Pengalaman Tertelan Duri Ikan, Tidak Perlu Panik!

2 comments

tertelan duri ikan

Yeorobun, pernah mengalami ketulangan? Tertelan duri ikan secara tidak sengaja? Kalau pernah, boleh sharing pengalamannya di komentar ya!

Tertelan duri ikan secara tidak sengaja memang semenyebalkan itu. Insiden kecil tapi bikin semua jadi serba tidak nyaman. Rasanya mau marah, tapi tidak ada yang salah. Pokoknya nggak enak!

Kemarin aku mengalaminya. Dan, gara-gara kejadian ini aku jadi tahu kalau ternyata istilah kerennya itu disebut ketulangan. Sampai tenggorokan berdarah, yeorobun! Parah nggak tuh? Makanya, simak ceritaku sampai habis ya!

PENGALAMAN TERTELAN DURI IKAN

Aku memang orang yang suka makan ikan. Ikan laut, ikan air tawar, semua aku suka. Mulai dari ikan kecil kelas teri, sampai kelas besar seperti pari, tidak ada yang tidak aku suka. Kalau ditanya ikan apa favoritku, bingung jawabnya.

Ikan termasuk bahan makanan yang bisa diolah jadi berbagai jenis makanan. Bisa dibakar, digoreng, dibuat pepes, sup ikan dan lain sebagainya.

Belum lama ini aku makan ikan bandeng bakar. Bumbu sambal kecap. Ikannya hasil suami mancing sendiri di tempat pemancingan bareng teman-teman kerjanya. Dia minta diolah sekalian di TKP. Jadi pulang bawa matengan buat anak istrinya.

Aku yang memang suka ikan jelas gembira dong dibawakan makanan kesukaan.

Sayangnya, pengalaman makan ikan terakhir kemarin bikin aku jadi sedikit trauma makan ikan bandeng. Kamu tahu sendiri kan, ikan satu ini durinya biadab sekali, luar biasa banyak! Durinya tersebar hampir merata dan ada dimana-mana.

Makan ikan bandeng–apalagi yang tidak boneless atau dipresto–memang harus super sabar. Rasa daging ikannya memang enak. Gurih, lembut dan juicy. Tapi kudu ekstra hati-hati. Salah eksekusi, bukan cuma daging, bisa-bisa duri ikut pindah ke mulut.

Nah, yang kemarin tidak sengaja aku telan sepertinya duri yang ukurannya lumayan besar tapi tidak panjang. Mungkin bagian remah-remah tulang kepala. Kebayang nggak?

Sebetulnya si bandeng sudah cabut duri. Suami minta sekalian dicabut durinya ketika diolah. Supaya tidak terlalu repot pilah-pilah ketika anak istrinya makan di rumah.

Tapi ternyata walaupun cabut duri tidak membuat semua duri musnah begitu saja dari badan ikan. Masih ada puing-puing tulang kepala dan ekor yang tersisa, yang bisa mencelakakan konsumen.

FYI, kejadian ini aku alami ketika sarapan. Bandeng bakar yang jadi lauk adalah bandeng yang sama dengan yang aku makan pada malam sebelumnya ketika suami membawakan sepulang kerja.

Aku tidak ingat persis bagaimana kronologinya potongan tulang ikan ini tersangkut di tenggorokan. Karena semua terjadi tiba-tiba tanpa disengaja dan tidak ada aba-aba.

Mungkin karena aku makan terlalu terburu-buru. Diburu waktu dan harus balapan dengan tangisan bocil yang lagi rungsing ingin nempel terus ke bundanya.

Momen makan ikan bandeng bakar pun jadi tidak bisa nikmat. Tidak bisa khusyuk dan tumaninah menyantap tiap potongan daging. Makan jadi tidak hati-hati. Mengunyah asal kena dan kurang lama. Dan, tiba-tiba tersedak karena tahu-tahu duri ikan sudah tersangkut, bercokol di kerongkongan.

Panik? Jelas! So pasti langsung panik.

Aku langsung berhenti makan dan memuntahkan sisa makanan yang masih ada dalam mulut. Berikutnya, aku terus menenggak segelas air putih. Harapannya si duri ikan yang tertelan dan tersangkut bisa terdorong masuk ke perut.

Suami yang menungguiku makan pun ikut panik. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Habis air bergelas-gelas, duri ini tetap anteng di tempatnya. Aku jadi semakin gelisah. Ditambah rasa tak nyaman dan tersiksa ketika menelan ludah. Nafsu makan seketika musnah.

Seharian itu rasanya waktu berjalan sangat lambat. Sambil momong bocil yang jadi makin nyebelin dan nggemesin, sambil Googling cari tutorial atau artikel apapun untuk mengatasi insiden ini.

Segala cara sudah aku coba untuk menghilangkan duri ikan yang tersangkut di kerongkongan. Mulai dari cara yang masuk akal, sampai yang absurd, bahkan sampai dengan cara pasrah dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Hasilnya nihil, yeorobun! Durinya tidak pindah kemana-mana.

CARA MENGHILANGKAN DURI IKAN YANG TERTELAN

mengatasi duri ikan yang tertelan

Kalau aku merangkum hasil Googling kemarin, kira-kira inilah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi duri ikan yang tertelan dan tersangkut di tenggorokan.

NOTE! Tidak semua cara di bawah ini aku coba. Dan, di luar sana mungkin masih ada cara-cara absurd lain yang belum sempat aku deteksi. Semoga bisa membantu kamu yang saat ini mungkin tengah merana karena duri yang tertahan di dalam saluran tenggorokan.

1. Minum banyak air

Bisa dibilang ini adalah pertolongan pertama untuk korban ketulangan. Hentikan aktivitas makanmu, lalu minum air putih banyak-banyak. Tapi jangan sampai kembung, ya!

Aku sudah coba cara ini, yeorobun! Entah sudah berapa banyak air yang aku gelontorkan ke tenggorokan. Sudah seperti ternak glonggongan, dikasih minum banyak air. 

Bagi sebagian orang mungkin berhasil. Tapi bagiku nihil. Nggak ngefek! Next, aku coba cara lain.

2. Menelan bulatan nasi

Dulu ketika aku masih kecil cara ini cukup ampuh mengatasi ketulangan.

Caranya dengan mengambil sebongkah nasi, lalu dikepal-kepal hingga menjadi bulatan seperti kelereng. Berikutnya, telan bulatan nasi kepal tanpa dikunyah. Duri ikan yang tersangkut akan ikut terdorong masuk ke perut.

Sayangnya cara ini sudah tidak ampuh lagi buatku. Kemarin sudah berapa bulatan nasi aku telan utuh. Tapi si duri tetap tidak mau turun ke perut.

3. Gunakan roti tawar

Cara yang ketiga ini diklaim cukup sukses oleh sebagian korban ketulangan. Ambil potongan roti tawar yang agak besar, kemudian basahi dengan air dan telan roti tanpa dikunyah.

Secara teori, roti yang dibasahi akan menjadi lebih berat sehingga mampu mendorong duri ikan yang tersangkut.

Sebagai pecinta roti, aku begitu bersemangat mencoba cara satu ini. Kemarin sudah belasan potong roti tawar yang aku coba, tetapi klaim sukses tak kunjung datang. Duri ikan tidak bergerak sama sekali di kerongkongan.

4. Makan pisang

Nah, metode yang ini cukup menarik. Tetapi aku kemarin tidak sempat mencoba yeorobun. Aku dan anak sebetulnya suka pisang. Tetapi karena anak masih batuk pilek, kami–untuk sementara–membatasi konsumsi buah-buahan termasuk pisang.

Menurut orang-orang cara ini sangat mudah dilakukan. Ambil potongan pisang agak besar. Letakkan dalam mulut dan diamkan sejenak sampai pisang cukup lunak terkena air liur. Selanjutnya, telan pisang tanpa dikunyah, langsung masuk ke tenggorokan. Katanya, duri ikan akan ikut turun bersama dengan pisang.

5. Minuman bersoda

Cara ini tergolong baru dan agak absurd bagiku. Minum cairan bersoda biasanya memicu seseorang bersendawa karena kandungan gas yang tertimbun dalam perut akan didorong keluar bersama-sama oleh soda gas.

Dengan minum air soda, si duri diharapkan bisa terdorong keluar ketika sendawa, atau bergetar saat gas keluar dari perut ke mulut.

Meskipun absurd, aku sudah mencoba cara yang tetap tidak membuahkan hasil ini. Sedih, lelah dan mulai pasrah. Sudah seharian aku berjibaku dengan duri ikan, tetapi tidak ada hasil yang menggembirakan.

6. Pakai cuka atau air garam

Petang selepas makan malam, insiden semakin memburuk. Aku yang sudah tidak nafsu makan nasi, hanya mengandalkan roti basah agar perut tetap terisi.

Sebetulnya aku tetap bisa menelan makanan dan ludah. Tetapi sensasi gatal dan mengganjal yang terjadi di tenggorokan benar-benar tidak nyaman dan bikin stres, yeorobun!

Sampai akhirnya kemarin aku malah memuntahkan makanan yang sudah aku makan karena saking gatalnya. Nah, yang mengejutkan adalah ternyata ada bercak darah yang ikut keluar. Tidak banyak tapi ada. Bukan darah yang mengalir terus-terusan keluar.

Aku mulai menangis dan semakin merana. Suami yang panik mulai kepikiran langsung ke IGD rumah sakit terdekat.

Aku masih belum putus asa dan menolak ajakan suami. Terakhir aku mencoba minum air garam hangat. Sudah tidak peduli lagi teorinya seperti apa. Yang penting aku coba cara-cara yang disarankan orang-orang di internet.

Asin! Banget. Tapi nggak ngefek.

Mulai terbesit ide, apa iya aku harus minum cuka? Tapi cuka terlalu kecut, bagaimana kalau asam lambungku malah kambuh. Bisa jadi masalah lain nanti.

7. Pasrah dan berdoa

Setelah kejadian muntah dengan bercak darah, aku semakin galau dan frustasi. Sepanjang malam, aku berkecamuk sendiri dalam hati. Antara didiamkan saja atau minum cuka atau ke IGD seperti kata suami.

Akhirnya malam itu berlalu dengan keheningan batin. Aku sudah tidak berminat makan, minum, ngomong. Pasrah. Ya Allah, aku pasrah. Kalau memang duri ini tidak mau pindah ke mana-mana, aku pasrah. Kalau harus operasi atau dibedah, aku pun pasrah. Tapi kalau bisa, berikan keajaiban.

Engkau Maha Kuasa mencabut nikmat hingga nyawa seseorang. Mencabut duri yang tersangkut di kerongkongan pasti sangat mudah bagiMu. Cabutlah duri ini Ya Rabb, tapi jangan nyawaku. Masih ada anak yang harus aku besarkan dengan kasih sayang. Ya Allah, aku pasrah padaMu. Aamiin.

Kira-kira begitulah isi hati dan pikiranku. Aku sudah memutuskan untuk menunggu sampai tiga hari. Kalau duri ini tetap tidak hilang atau gejala makin memburuk, misalnya aku tidak bisa menelan, makan minum, atau darah mengalir keluar, langsung lari ke IGD.

Malam hari akhirnya aku tertidur dalam kegalauan dan kegundahan hati.

8. Pergi ke dokter THT

Pergi ke dokter THT bisa menjadi pilihan terakhir setelah semua usaha dicoba. Atau bahkan menjadi pilihan pertama jika tidak ingin bersusah payah menderita karena duri ikan.

Aku belum sampai ke level ini yeorobun. Hasil penelusuranku di Google tentang pengalaman orang-orang yang sampai ke spesialis THT untuk mencabut duri ikan tidak begitu menyenangkan.

Sebetulnya cara ini hampir bisa dipastikan berhasil untuk menyingkirkan duri yang bercokol di tenggorokan. Tapi proses atau treatment-nya itu lho yang bikin aku bergidik duluan bahkan masih sebatas membayangkan.

Kata orang-orang, dokter akan memakai alat logam yang entah apa namanya untuk mengambil duri. Sebelumnya pasien akan diminta membuka mulut lebar-lebar, lalu disinari dengan senter untuk melihat seberapa dalam lokasi duri tersangkut. Kalau terlalu dalam pasti sulit diambil.

Tapi kebanyakan kejadian seperti ini tidak membutuhkan tindakan operasi atau pembedahan kok. Karena sebetulnya duri bisa hancur sendiri dalam tubuh manusia. Wong sama-sama terbuat dari bahan organiknya, seperti makanan.

Kalau bisa diambil, dokter mungkin akan menyemprotkan cairan bius di mulut pasien, agar ketika merogoh tenggorokan dengan alat pasien tidak terlalu kesakitan.

Nah, ini yang bikin aku bergidik. Ngeri-ngeri sedap membayangkan alat yang dimasukkan ke tenggorokan, dirogoh-rogoh, demi mengambil barang kecil yang sebetulnya bisa hancur sendiri seiring waktu.

THE END OF THE STORY

Cerita penderitaanku karena duri ikan berakhir dengan indah dan bahagia, yeorobun! Alhamdulillah…

Setelah galau antara ke dokter THT–yang biayanya tidak murah–atau minum air cuka, aku memilih untuk menunggu beberapa hari ke depan dalam gamang dan gelisah.

Malamnya aku lebih banyak diam. Tapi sudah bertekad bulat, kalau gejala ini memburuk, aku siap lari ke IGD rumah sakit terdekat. Nangis sambil berdoa dalam hati. Berharap ada keajaiban walaupun pesimis. Hopeless. Karena pas rebahan tenggorokan makin gatal, durinya seperti makin dalam tertanam di dalam lapisan kerongkongan.

Tidur miring kanan sakit, miring kiri sakit, telentang malah lebih sakit. Jadi, ya udahlah seenak ini badan mau posisi kayak gimana. Rebahan sambil main ponsel, lama-lama pasti lupa rasa sakit dan risihnya. Dan, aku pun tertidur… Ya Allah, syukurlah masih bisa tidur yaa.

Tidak ada kejadian khusus sepanjang malam yang bikin aku terbangun. Aku bisa tidur nyenyak seperti biasa. Satu-satunya penyebab aku terbangun cuma rengekan si kecil minta susu.

Lalu ketika pagi, keajaiban itu datang. Durinya tiba-tiba hilang, yeorobun! Sirna. Musnah tak berbekas. Tidak ada lagi sensasi nyantol dan ngganjel di tenggorokan. Menelan ludah, makanan, minuman, bebas tanpa batas. Subhanallah!

Nyeri tenggorokannya memang masih ada. Tapi aku maklum, karena sehari sebelumnya sempat terluka, terkoyak oleh duri ikan sampai berdarah. Tapi rasanya tidak separah itu. Bahkan rasanya tidak lebih sakit dari nyeri karena panas dalam.

Dan, nyerinya pun tidak berlangsung lama. Hari berikutnya sudah sembuh total. Tidak ada rasa sakit, perih, nyeri, atau sensasi apapun yang tersisa di tenggorokan. Sudah kembali seperti sedia kala. Alhamdulillah!

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL

Kejadian ini membuatku belajar beberapa hal penting, yeorobun! Semoga bisa menjadi pelajaran tidak hanya bagi diriku sendiri, tapi juga bagi siapa saja.

Ketulangan atau tertelan duri ikan memang tidak nyaman, risih dan cukup mengganggu aktivitas terutama menelan (ludah, makanan, minuman). Tapi kita tidak perlu panik.

Selama tidak menunjukkan indikasi gawat medis, seperti menggangu pernapasan, timbul demam atau darah mengalir, tidak perlu buru-buru ke dokter.

Cobalah lakukan pertolongan pertama dan cara-cara lainnya untuk mengatasi duri yang tersangkut di tenggorokan, seperti yang aku sebutkan di atas.

Jangan memaksa untuk mengeluarkan duri dengan tangan atau alat apapun sendirian. Kalau perlu alat, biar tenaga medis atau dokter yang bertindak.

Duri ikan adalah bahan organik yang bisa hancur sendiri seiring waktu. Tunggu saja beberapa hari. Kalau tetap tidak ada tanda-tanda duri akan hilang, boleh datangi dokter spesialis THT.

Jika memang tidak yakin mencoba usaha sendiri di rumah, atau tidak sabar, silakan langsung ke dokter. Jangan lupa siapkan dananya, karena ke dokter spesialis bisa jadi tidak murah ongkosnya.

Yang paling penting, mulai sekarang berhati-hatilah ketika makan ikan. Lebih teliti dan kunyah makanan lebih lama. Jangan tergesa-gesa!

Jangan lupa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa setelah mencoba segala ikhtiar dan usaha. Bisa makan minum dengan leluasa dan nyaman adalah suatu nikmat dan anugerah yang sangat besar namun sering kali kita lupa.

Tertelan duri ikan atau ketulangan bisa jadi adalah teguran kecil dari Tuhan, supaya kita lebih banyak bersyukur.

Sekian yeorobun. Kalau kamu punya pengalaman serupa tentang mengatasi tertelan duri ikan, silakan share di kolom komentar!

Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. We are one, 사랑하자!

Related Posts

2 comments

  1. Ya memang hal yang menjengkelkan ketika kita sedang makan ikan tapi malah banyak durinya. Sebenarnya pernah kecil dulu ketelan duri ikan dan salah satu cara yang diajarkan orang tua saya ya itu minum air banyak banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, jadi pengen marah tapi gak ada yang salah. Bawaannya jengkel pokoknya..

      Aku udah coba macem2 cara termasuk minum banyak air putih. Eh ternyata si duri yang nyangkut gak bisa diapa2in, biarlah turun dengan sendirinya

      Delete

Post a Comment