admasyitoh.com

Restoran Kapitan Penang, Kuliner India-Melayu-Arab yang Wajib Dicoba!

8 comments

restoran-kapitan-penang

Yeorobun, traveling tanpa kuliner ibarat nonton drama Korea tapi tidak sampai ending. Nanggung! Nah, aku punya rekomendasi nih tempat kuliner yang dijamin halal untuk melengkapi trip liburan di Penang, Malaysia.

Seperti yang sempat aku singgung di artikel sebelumnya tentang tempat wisata di George Town Penang, yang didominasi oleh etnis Tionghoa, pilih makanan halal wajib hukumnya terutama bagi muslim sepertiku. Sebab, yang paling gampang ditemui adalah rumah makan Chinese food.

Nah, tempat makan yang aku rekomendasikan ini konon termasuk salah satu restoran legendaris lo Penang. Sayangnya dulu aku tidak sempat cari info lebih lanjut tentang kapan restoran ini dibangun. 

Dan, yang paling aku sesalkan adalah tidak sempat foto-foto! Foto makanannya, interiornya dan atmosfer restoran yang hiruk-pikuk melayani pelanggan. Padahal interiornya bagus, yeorobun. Nuansa khas India-Arab begitu terasa dengan dominasi cat warna merah. Ditambah ornamen kaligrafi yang dipajang di berbagai penjuru bangunan. Ahh, indahnya. 

interior restoran

Yang jelas, Restoran Kapitan sudah jadi perusahan sendiri berkat usaha kuliner dan cateringnya. Baiklah, langsung aja simak ulasan berikut ini ya!

Disclaimer! Sebagian foto dalam artikel ini berasal dari berbagai sumber. Namun ulasan ditulis berdasarkan pengalaman asli penulis ketika berkunjung ke Restoran Kapitan. Demikian, harap maklum. 

RESTORAN KAPITAN PENANG

Perjalanan panjangku ke Malaysia pertama kali, tepatnya ke George Town Penang, menghabiskan waktu seharian. Yah, gara-gara terlalu lama transit sih di Kualanamu Medan, yang memakan waktu lebih dari tujuh jam. 

Lebih lama transitnya, daripada total waktu di pesawat. Haha. Berangkat ke Juanda sebelum subuh dan berakhir di Penang Int'l Airport sekitar jam 6 petang waktu setempat (kalau di Indonesia jam 5 sore).

Lelah, kantuk dan yang pasti lapar. Belum lagi masih muter-muter di George Town karena cari lokasi penginapan yang pas. Mengisi perut yang cacingnya mulai joget-jogetan menjadi wajib hukumnya setelah mobilitas tinggi seharian.

Makan pertamaku di George Town adalah makan malam yang langsung membuatku jatuh cinta dengan restoran ini. Padahal waktu itu aku cuma makan seporsi nasi goreng ayam dan segelas teh tarik. Tapi bukan cuma perut kenyang, lidah pun dipuaskan dengan cita rasa khas rerempahan yang aduhai nikmat dan lezat.

Rasanya enak dan butiran nasinya menurutku lebih padat dan lebih besar daripada nasi goreng di Surabaya. Aromanya sungguh menggugah selera. Apalagi porsinya, sangat memanjakan perut yang keroncongan. Benar-benar pemadam kelaparan, kataku.

Kalau teh tariknya cenderung biasa. Sama saja seperti teh tarik di daerah lain di Malaysia.

Well… Restoran Kapitan adalah rumah makan yang menyajikan berbagai jenis menu khas India, Arab dan Melayu. Namanya sudah kondang di kalangan turis berbagai negara. Spesialisasi mereka adalah nasi briyani dan roti naan.

Sesuai dengan tagline yang mereka usung "World Class Naan Bread and Briyani Claypot" suguhan menu briyani dan paket naan mereka sangat lengkap dan dijamin menggoyang lidah. Makanya tidak heran kalau banyak pelancong bule yang mampir ke tempat ini demi merasakan menu khas India-Arab buatan koki profesional mereka.

Yeorobun, nama nasi briyani pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi kalau naan, kamu mungkin penasaran karena jarang atau bahkan belum pernah dengar. Iya kan?

Baiklah, mari kita kenalan dengan roti naan! Mengutip dari The Appetizer Atlas: A World of Small Bites, briefly, naan adalah sejenis roti pipih yang dibuat dari gandum dan ragi, yang populer di Asia Selatan dan Asia Tengah. Kadang bagian atasnya ditaburi wijen atau jintan hitam, serta dibumbui dengan berbagai macam rempah-rempah.

Kalau kamu tanya rasanya, emm… Menurutku cenderung hambar–bagiku yang lebih suka roti manis. Tapi kalau sudah dikawinkan dengan kuah kari, saus keju atau saus sambal hijau (yang entah apa namanya), wah mantap! Apalagi ditambah chicken tandoori, beuh sedap! Jadi semakin kaya rasa.

Nah, apa lagi tuh chicken tandoori? Chicken tandoori adalah ayam goreng khas Punjab (India) yang berwarna merah karena dibumbui dengan aneka rempah warna merah, terdiri dari garam masala, lada, bubuk cabai dan lain sebagainya.

Karena aku pencinta makanan rempah seperti nasi padang, sajian restoran ini cocok sekali dengan seleraku. Briyani, naan, chicken tandoori, kari dan nasi kandar tentunya–yang jadi kuliner khas Penang.

Kalau kamu bukan penggemar kuliner India atau Timur Tengah, makanan kaya rempah di sini mungkin terlalu kuat dan mencolok rasanya. In case, kamu bisa memilih menu selain briyani seperti aneka olahan mi atau nasi goreng. Ada juga berbagai jenis kebab dan martabak yang isianya bisa request sesuai selera.

Intinya, banyak sekali varian menu yang bisa dipesan di sini. Bahkan menu khusus untuk vegan pun ada lo. That's why tempat ini wajib kamu masukkan dalam wishlist ketika berlibur ke George Town, Penang.

Oiya, satu lagi. Restoran Kapitan ini sudah menjadi perusahaan kuliner sendiri, ya. Jadi bukan sekedar usaha tempat makan atau warung biasa milik seseorang. Tapi memang sebuah restoran besar yang ada brand dan manajemen perusahaannya sendiri.

Kalau kamu lihat dari namanya, Restoran Kapitan Sdn. Bhd., menunjukkan bahwa restoran ini adalah sebuah perusahaan swasta terbatas (Sendirian Berhad atau disingkat Sdn. Bhd.), yang badan hukumnya terpisah dari pemiliknya. Di Indonesia mirip dengan perseroan terbatas (PT) swasta atau Pte. Ltd. di negara lain.

ALAMAT DAN KONTAK

Setelah kunjungan pertamaku malam itu–malam pertama aku tiba di Malaysia–tiga hari berturut-turut berikutnya aku pergi makan malam di tempat ini. Seperti tidak ada pilihan lain, karena kalau makan di sini aku tidak perlu waswas halal-haram. Semua makanannya dijamin halal.

Mulai dari bahan bakunya, bumbu-bumbunya, prosesnya, semua halal. Ini tentu jadi nilai plus sendiri bagi wisatawan muslim yang berkunjung ke Penang, sepertiku.

Memang, Restoran Kapitan bukan satu-satunya restoran India-Arab yang menyajikan menu jaminan halal. Tapi, bagi diriku yang lebih suka simpel dan praktis serta tergolong malas eksplor tempat makan baru, restoran pertamaku di George Town ini ibarat 'rumah sendiri' yang aku tidak perlu merasa takut dan ragu untuk makan sesuka hatiku. Semacam tinggal makan masakan emak di rumah sendiri, begitulah kira-kira.

Lagi pun, lokasinya cukup strategis. Tidak terlalu jauh dari penginapanku di Lebuh Kimberley. Cukup jalan kaki beberapa menit, sembari menikmati malam yang seperti tidak pernah sunyi. Restoran pusatnya terletak di kawasan Little India, tidak jauh dari Kapitan Keling Mosque.

  • Restoran Kapitan Chulia (HQ) - 93, Chulia Street, 10200 George Town, Penang, Phone: 04-264 1191
  • Untuk booking reservasi atau katering bisa menghubungi nomor telepon 04-264 1191 atau 019 477 7897

Tbh, aku tidak tahu bagaimana rute transportasi umum ke restoran ini. Tapi aku pernah menjumpai bus Rapid Penang melintas di kawasan ini. Jadi kalau kamu mau ke sini, mungkin bisa pakai bus itu, atau yang paling praktis pakai taksi online.

Restoran Kapitan juga membuka cabang di beberapa lokasi. Berdasarkan informasi dari akun resmi mereka di Instagram, ada tiga cabang yang tersebar di berbagai kawasan di Penang.

  • Restoran Kapitan Macalister - 274, Jalan Macalister, 11400 George Town, Pulau Pinang, Phone: 04-226 0521
  • Restoran Kapitan Queenbays - 89 G, Persiaran Bayan Indah, 11900 Bayan Lepas, Pulau Pinang, Phone: 04-646 3411
  • Restoran Kapitan Nasi Majlis - 5-G-20, Persiaran Mashuri 2, Bandar Bayan Baru, 11900 Pulau Pinang, Phone: 04-637 0162

MENU DAN HARGA

Ada banyak sekali paket menu yang bisa dipilih. Terlalu banyak malah, sampai-sampai aku pun bingung dibuatnya. Ada paket tandoori set, naan selection, kebab special, chicken milani, claypot briyani, mutton atau beef special, paneer, vegetables special, serta berbagai varian minuman mulai dari jus, shake, ice blended, hingga lassi.

menu restoran

Menu andalan mereka adalah Milani Cheese Naan set, Tandoori Briyani set, Tandoori Plain Naan set dan Chicken Briyani Claypot. Bingung ya pilihnya? Sama. Semua terlihat menarik dan bikin penasaran.

Tapi varian menu lainnya masih banyak kok. Dan, pasti bikin kamu makin kebingungan. So, tidak ada salahnya bertanya kepada pelayan kalau kamu tidak bisa menentukan pilihan. Mereka juga bisa memberi rekomendasi menu kalau kamu mengutarakan selera dan keinginanmu.

Karena varian menunya sangat banyak, harga makanan di sini pun beragam, yeorobun. Kisaran dari 3,00 sampai 20,00 ringgit. Jika dikonversikan ke rupiah–dengan nilai kurs saat ini sekitar 3.342 rupiah–maka harga makanan di sini masih tergolong murah. Yaitu antara 6.000 hingga 66.000 ribuan.

Therefore, restoran ini bisa banget dikunjungi oleh semua kalangan. Tidak harus mereka yang berkantong tebal. Harganya merakyat, rasanya nikmat.

Apalagi yang lebih indah, selain bisa menikmati kuliner yang rasanya enak, harganya murah, ditambah tempat makan yang bersih dan serta pelayanan yang menyenangkan?

FASILITAS DAN PELAYANAN

Terlepas dari perbedaan bahasa yang mereka gunakan, aku ingin menekankan bahwa pelayanan staf di Restoran Kapitan tergolong menyenangkan. Mereka sangat ramah dan cukup bersahabat dalam melayani pelanggan. Suka bercanda lagi.

Tentu saja memakai bahasa Inggris lebih mudah dipahami daripada bahasa Melayu. Even tho, logat mereka sangat berbeda dengan kita. Tapi bahasanya sangat mudah dipahami, sehingga tidak menimbulkan miskomunikasi.

Oiya, yang aku tahu semua staf di Restoran Kapitan–khususnya di Chulia Street–adalah laki-laki. Seingatku, tidak ada pegawai perempuan yang aku jumpai. 

Ini bisa aku maklumi, karena kalau melihat cara mereka bekerja sepertinya memang cukup keras dan butuh banyak tenaga. Kekuatan fisik laki-laki sepertinya lebih efektif dan efisien, daripada perempuan yang cenderung lemah gemulai. Haha. No judge please, ini cuma opini pribadi.

Nah, yang paling bikin betah di restoran ini yaitu fasilitas free wifi. Aku belum tahu bagaimana di tempat makan lain, tetapi di restoran ini pengunjung mendapatkan akses internet cepat yang bebas tanpa batas dan GRATIS.

Walaupun tempatnya kurang nyaman untuk dipakai berlama-lama. Kurang cozy gitu deh. Kamu bisa memilih indoor maupun outdoor di lantai bawah, atau indoor dan balkon di lantai atas. Tapi di manapun tempat duduknya, semua hampir sama.

Aku sendiri lebih suka di area luar yang menghadap langsung ke arah jalanan Lorong Pit namanya. Karena bisa sambil menikmati suasana jalanan dan deretan bangunan-bangunan kuno di sekitar restoran.

area outdoor

Imho, yang bikin restoran ini kurang nyaman adalah ramainya pengunjung yang keluar masuk, silih berganti seperti tidak ada habisnya.

Buka 24 jam, restoran ini seperti tidak pernah tidur. Tetap ramai dikunjungi meski tempat-tempat di sekitarnya sudah sepi dan tutup. Mungkin ini juga salah alasan kenapa banyak turis asing menyukai Restoran Kapitan.

Selain itu, mereka tidak hanya melayani dine in. Bisa juga takeaway dan pesan online. Mereka juga melayani paket catering lo, jadi kalau misal kamu mau menyelenggarakan acara besar di sana–pesta pernikahan atau ulang tahun misalnya–bisa diatur oleh mereka.

Dan, kalau berencana ke sini ramai-ramai dengan keluarga atau kerabat, tidak ada salahnya membuat reservasi terlebih dahulu via telepon, supaya mereka bisa menyiapkan tempat yang pas. Seperti yang kubilang, tempat ini selalu ramai. So, daripada capek-capek ke sini tapi nggak kebagian meja, mendingan booking via telepon aja!

SUMMARY

Yeorobun, Restoran Kapitan di Chulia Street adalah salah satu restoran legendaris di George Town, Penang. Banyak sekali sajian menu khas India, Melayu dan Arab yang bisa dipilih pengunjung.

Jaminan rasa yang nikmat, harga yang ramah kantong, serta jam operasional yang full 24 jam, membuat restoran ini disukai banyak wisatawan. Ditambah lagi jaminan halal, tentu menjadi kelebihan tersendiri di mata para wisatawan muslim.

Overall, aku memberi restoran ini skor 9,25/10 untuk menu, servis serta atmosfernya. Highly recommended bagi pencinta makanan kaya rempah yang ingin merasakan citarasa khas India-Melayu-Arab.

The last but not least, telah membaca ulasan ini apakah kamu tertarik mencoba kuliner di Restoran Kapitan Penang? Ceritakan di kolom komentar, ya!

REFERENSI

  1. Arthur L. Meyer, Jon M. Vann (2008). The Appetizer Atlas: A World of Small Bites. Houghton Mifflin Harcourt. hlm. 579. ISBN 054417738X, 9780544177383.
  2. https://money.kompas.com/read/2021/09/02/094356626/apa-arti-berhad-sdn-dan-sdn-berhad-pada-nama-perusahaan-malaysia

Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. We are one, 사랑하자!

Related Posts

8 comments

  1. Mirip² aku lah mbak... Makan ditempat bagus tp ngga sempet foto². Baru deh berasa nyesel ngga sempet dokumentasi.
    Aku suka masakan kaya rempah mba. Kayaknya hampir sama kayak kuliner Aceh ya. Kaya rempah terus rasanya india gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk, kalo seandainya kita bisa ketemu terus hangout ke tempat makan gitu paling keasikan ngobrol sama makannya, terus lupa foto2 yak. Lucu gak sih bayanginnya :D

      Iyaa, mirip2 kuliner Aceh, Minang, India... Khas banget rempahnya. Tapi kalo di Penang sini lebih medok lagi timbang nasi padang, hehe

      Delete
  2. Favorit banget, nih makanan India, apalagi roti Naan dan dicocol pake lamb curry, udah kaya nonton Drakor sampai tamat, hehe. Tapi jauh banget yaak, harus ke Penang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu... Di sini kalo ke rumah makan Kairo, Timur Tengah atau sejenis, jarang nemu yang rasanya nendang gitu. Kayaknya emang harus balik lagi kesana, khusus buat liburan. Semoga bisa kesampaian hehe

      Delete
  3. Wah aku jdi pgen nyicipi makanan d penang, apalagi highly recommended nih...mantab reviewny...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, recommended semua. Sampe bingung kalo suruh milih seandainya harus pilih cuma satu :"

      Delete
  4. kangen Penang pas baca ini, memang kulineran disana emang paling pas, rata-rata enak semua. Wilayahnya juga nyaman di jelajahi sambil jalan kaki
    nasi briyani omaigodd enak banget, nas kandar juga. Kudu balik kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget kak, jalan kaki di sana itu kayak nggak berasa capek. Tau2 udah gelap, udah malem gitu aja. Soalnya banyak tempat makan enak, terus viewnya juga jadul gitu kan... Yuk, bisa yuk balik ke sana. Hihihi :D

      Delete

Post a Comment