admasyitoh.com

Ini Tradisi Lebaran Keluargaku, Bagaimana Denganmu?

2 comments

Setelah dua tahun, alhamdulillah akhirnya tahun ini bisa kembali lebaran dengan normal seperti sedia kala walaupun masih harus tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan. Kalau aku mengamati, sepertinya tahun ini menjadi momen 'balas dendam' bagi mereka yang tinggal di perantauan setelah dua tahun sebelumnya tradisi mudik dan pulang kampung sedikit terkekang. 

Aku menyadari, mudik adalah tradisi penting yang memang sedih dan 'ngenes' sekali kalau dilewatkan. Itulah kenapa ketika melihat orang-orang begitu semringah dan semangat pulang kampung, aku ikut merasa gembira sekaligus terharu. Meski harus berjibaku dengan kemacetan, tetapi para perantau tetap antusias untuk kembali pulang ke kampung halaman tercinta. Berita khusus mudik di televisi juga kembali ramai. Ah, indahnya. Rasanya lebaran kembali seperti sedia kala.

Keluargaku dan keluarga besarku di Batu dan Malang kebanyakan tidak merantau. Justru aku yang merantau, meski hanya ke Surabaya. Berbanding terbalik dengan keluarga atau kerabat suamiku yang hampir semua merantau keluar Jawa Timur. Kakek-nenek suami tinggal di Caruban. Tetapi kebanyakan om dan tante tinggal dan mengadu nasib di Ibu Kota. Saat pemerintah menetapkan bahwa tahun ini mudik kembali diizinkan, senang sekali rasanya bisa berkumpul dengan mereka semua di Caruban.

Tapi sebetulnya, tidak cuma mudik lho tradisi lebaran keluarga yang sayang sekali kalau dilewatkan. Biasanya setiap keluarga besar memiliki tradisi atau kebiasaan sendiri yang diamalkan ketika lebaran. Mudik hanyalah salah satu rangkaian tradisi yang umum sekali dijumpai--mungkin--hampir di semua keluarga. Nah, di bawah ini adalah beberapa contoh tradisi yang ada di keluargaku. 

1. Sungkeman

Seperti pada umumnya, sungkeman di keluargaku tidak jauh berbeda. Kami, para anak, mantu dan cucu, akan sujud bersimpuh menghadap bapak dan ibu mertuaku, sambil meminta maaf atas kesalahan yang selama ini kami lakukan. Mereka lalu akan mendoakan kami. Sejujurnya, karena harus bersujud dan bersimpuh, aku malah merasa bahwa mertua adalah sosok yang 'ditakuti' di keluarga kami. Canggung dan kaku. Tapi memang sejak dulu sudah begitu tradisinya, kata suami. 

Kalau di keluargaku di Batu, sungkeman kepada bapak dan ibu tidak harus bersujud dan bersimpuh. Tidak ada acara sakral. Yang penting meminta maaf sambil mencium tangan mereka. Memeluk mereka dan mengecup pipi ibuku. Aku justru merasa lebih santai dan tidak canggung. Lebih hangat. Yah, sesederhana itu. Tetapi maknanya yang bisa membuat mata sembap.

Nah, kalau sungkeman kepada para tetua seperti kakek dan nenek berbeda lagi. Kami akan bersujud sambil mencium tangan mereka, lalu mereka akan merapalkan doa-doa kepada kami. Lebih kuno dan terasa sangat otentik. 

2. Nyekar

Kakek-nenekku di Batu, baik dari bapak dan ibu, sudah wafat sejak lama saat aku masih kecil. Karena tidak bisa sungkeman secara langsung, jadi kami harus sungkeman beda alam.

Setelah salat Ied dan sungkeman di rumah, biasanya kami semua langsung meluncur ke pemakaman untuk mendoakan para ahli kubur. Tidak ada suasana horor walaupun harus ke makam. Justru nyekar ke makam para tetua adalah salah satu momen yang paling aku tunggu.

Nyekar tidak hanya menjadi momen untuk mendoakan mereka yang telah wafat, tetapi juga saat untuk mengenalkan anggota keluarga baru seperti cucu yang baru lahir atau menantu. Menurutku tradisi ini penting, selain mendoakan arwah, juga bermanfaat untuk mengenal silsilah keluarga atau nasab sendiri. 

3. Makan-makan

Apalah artinya momen istimewa tanpa acara makan-makan. Kalau lebaran biasanya ibuku akan memasak makanan istimewa sesuai request anggota keluarga yang lain. Bukan opor ayam. Biasanya aku dan adikku lebih suka makanan-makanan yang tidak bersantan, seperti gado-gado, rujak cingur atau sate ayam. Suamiku beda lagi. Dia adalah penggemar berat bakso daging yang kuahnya segar dan pedas.

Kalau bapak dan ibuku cenderung fleksibel. Mereka selalu mengikuti kemauan anak-anaknya.

Kenapa bukan ketupat dan opor ayam? Jawabannya simpel. Keluarga kami tidak begitu menyukai opor ayam. Sedangkan ketupat akan dimasak pada H+7 lebaran. Di Batu, terutama di kampungku, tradisi Jawa masih sangat terasa. Lebaran Idulfitri selalu terdiri dari dua rangkaian utama, yaitu ketika tanggal 1 Syawal (disebut hari raya Idulfitri) dan tanggal 8 Syawal (disebut hari raya Syawal).

Ketika hari raya Syawal para warga kampung akan selamatan ketupat bersama-sama di masjid dan musala. Kami memasak ketupat, lontong, lepet dan sayur orem-orem. Para tokoh agama akan memimpin acara selamatan, yang dimulai dengan membaca tahlil, berdoa lalu makan-makan. 

Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. We are one, 사랑하자!

Related Posts

2 comments

  1. Di daerah tempat tinggalku (Citeureup kab. Bogor) H-1 kirim hantaran masakan ke keluarga besar menggunakan rantang. Meski setiap rumah punya menu lebaran masing-masing, karena sudah tradisi,saling kirim hantaran masakan tetap dilaksanakan. Lalu rantang diisi kembali dengan menu masakan si penerima. Menurut ku hikmah dari semuanya adalah silaturahmi 🥰 salam kenal ka dari pemula 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah asik banget itu masih pake rantang. Otentik sekaliii. Dulu aku pernah ngantar makanan pake rantang gini ke rumah sodara. Sekarang udah gak pernah, karena pake kemasan kardus/plastik mika lebih praktis :" Padahal seru ya pake rantang. Semoga budaya di sana terus terjaga ya mbaak..

      Terima kasih sudah mampir ke blog ini :*

      Delete

Post a Comment