admasyitoh.com

Semilir Ecoprint: Alfira Oktaviani Lestarikan Budaya Bengkulu dalam Karya Busana Ramah Lingkungan

5 comments

semilir ecoprint
Semilir Ecoprint (Foto: Dok. Semilir via Rejogja Republika)

Entah kenapa, aku selalu tergugah dengan isu fesyen ramah lingkungan. Fesyen atau busana merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling esensial, tidak bisa dihindari dan dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, belum banyak yang menyadari sepenuhnya bahwa fesyen mempunyai sisi kelam yang berdampak besar pada kelestarian alam serta lingkungan sekitar.

Di balik keglamorannya, dunia fesyen telah berkontribusi pada pencemaran limbah cair dan emisi karbon di Bumi. Mereka, para pelaku industri fesyen, yang sudah membuka mata kini mulai berbondong-bondong merumuskan solusi. Inilah yang kemudian menjadi titik tolak lahirnya sustainable fashion, yakni fesyen berkelanjutan yang diyakini lebih ramah lingkungan.

Sore itu aku sedang membaca berita di salah satu portal media nasional tentang para peraih Satu Indonesia Awards 2022. Mataku tertuju pada salah satu nama yang mirip denganku. Alfira. Siapakah dia?

Rasa penasaranku akhirnya terjawab. Penelusuranku ternyata menghasilkan secercah inspirasi sekaligus sejuta kekaguman pada sang empunya nama. Dialah Alfira Oktaviani, ibu rumah tangga hebat yang berhasil melestarikan kain lantung khas Bengkulu melalui karya busana berkelanjutan dan ramah lingkungan. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Alfira Oktaviani berhasil memenangkan Satu Indonesia Awards 2022 kategori Kewirausahaan.

Semilir Ecoprint yang didirikannya sudah melambungkan nama kain lantung sehingga dikenal lebih luas, termasuk oleh orang awam sepertiku. ASTRA memang menganugerahinya sebagai pemenang di bidang kewirausahaan. Tetapi di mataku, Alfira adalah pejuang budaya sekaligus lingkungan. Semilir Ecoprint bukan hanya sebuah brand fesyen. Sesuai namanya, Semilir Ecoprint adalah embusan inspirasi untuk terus berkarya sambil mencintai budaya dan alam sekitar.

Kain Lantung Khas Bengkulu

Kain lantung adalah nilai sejarah serta kebudayaan yang erat sekali dengan kehidupan rakyat Bengkulu. Ketika zaman penjajahan rakyat Indonesia mengalami penderitaan tak terperi yang membuat hidup serba susah. Susah mencari makan pun mencari sandang pakaian. Tidak terkecuali rakyat Bengkulu.

Kondisi perekonomian yang sulit membuat masyarakat Bengkulu memutar otak, bagaimana caranya membuat kain untuk pakaian (pelindung tubuh). Dengan memanfaatkan hasil hutan, akhirnya mereka membuat kain alternatif dan diberi nama kain lantung.

Asal-usul nama lantung sendiri sebetulnya cukup menarik. Ketika kain lantung dibuat, perikai—alat pukul dari kayu atau tanduk kerbau—dipukulkan ke kulit kayu menghasilkan bunyi "tung tung tung…" Inilah yang kemudian mendasari penamaan nama kain lantung yang dihasilkan oleh masyarakat Bengkulu.

Kulit kayu yang sudah dipotong-potong, dipukul-pukul dengan perikai sampai menjadi lembaran yang tipis, lebar dan rata. Lembaran ini lalu diangin-anginkan sambil dibersihkan dengan sapu lidi. Setelah kering sempurna, barulah kain kulit lantung ini bisa digunakan untuk dijadikan baju, celana atau kain meteran.

Kulit kayu yang digunakan sebagai bahan pokok pembuatan kain biasanya berasal dari pohon yang bergetah karena diyakini lebih awet dan kuat. Meski sebagian besar memakai kulit kayu pohon terap (Artocarpus elasticus).

Begitu besarnya nilai budaya dalam proses pembuatan kain ini. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pada tahun 2015 akhirnya menetapkan kain lantung sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Alfira Oktaviani, Founder Semilir Ecoprint Asal Sleman Yogyakarta

Mendengar label "khas Bengkulu" aku langsung mengira kalau owner brand eco fashion ini adalah orang Bengkulu. Siapa sangka kalau ternyata pemiliknya adalah seorang mompreneur inspiratif asal Sleman, Yogyakarta. Meski diakui, memang ia mewarisi darah Bengkulu dari sang ayah. Siapakah sosok Alfira sebenarnya?

Ibu Rumah Tangga yang Berdaya

Alfira adalah seorang lulusan apoteker Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta yang setelah menikah mulai menekuni dunia bisnis. Awalnya ia hanya tertarik dengan eco fashion terutama ecoprint, teknik memberi motif warna kain dengan menggunakan bahan-bahan organik melalui kontak langsung.

Saat itu ia mengaku tertarik dengan teknik ecoprint karena motifnya yang unik. Dengan memanfaatkan dedaunan atau bagian-bagian tumbuhan, kain polos bisa mempunyai corak warna-warna yang unik. Meski cenderung menghasilkan warna-warna earth tone atau pastel, tetapi corak-corak ecoprint tetap menarik dan mempesona. Sejak itulah ia tertarik belajar ecoprinting yang memang sudah dikenal ramah lingkungan di dunia fesyen.

Ecoprint menggunakan bahan organik, bahkan limbah kayu, yang mana dalam prosesnya pun tidak menghasilkan limbah lainnya. Bekas daun-daun yang dipakai untuk mewarnai kain tidak langsung dibuang, melainkan diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Berawal dari ketertarikan dan hobi ini, Alfira kemudian mencoba untuk merintis usaha di bidang fesyen berkelanjutan ini dengan modal seadanya. Ia terus belajar tentang ecoprint sampai menemukan formulasi yang pas untuk diterapkan pada kain, sembari mengembangkan bisnisnya.

Ditantang Sang Ayah

Semilir Ecoprint, yang didirikan Alfira pada tahun 2018, pada mulanya memakai kain-kain organik seperti katun, sutra dan linen. Kain-kain berbasis bahan alami seperti ini biasanya lebih mudah menyerap pewarna alami dedaunan, bunga atau ranting-ranting.

Alfira lalu ditantang sayang ayah yang asli Bengkulu untuk menerapkan teknik ecoprint ini pada kain lantung, kain khas Bengkulu.

"Saya sudah membentuk Semilir Ecoprint sejak tahun 2018 dan mencoba dari kain biasa. Tapi kemudian saya ingin mencoba inovasi dengan kain yang berbeda, dan bapak sayang yang asli dari Bengkulu menantang saya untuk membuat ecoprint dari kain lantung." Demikian penuturan Alfia kepada Republika.

Karena itulah Alfira mencoba memakai media kain lantung. Menurutnya, meski sama-sama berasal dari bahan alami, tetapi mewarnai kain lantung secara ecoprint ternyata tidak mudah. Kain lantung, yang terbuat dari kulit kayu lantung, pada dasarnya sudah memiliki zat warna sendiri karena berasal dari pohon jenis getah-getahan.

Trial-error berulang kali sudah Alfira lakukan sampai akhirnya berhasil membuat ecoprint pada kain lantung ini. Karena prosesnya yang panjang, Alfira justru semakin tertantang untuk mempelajari dan menelusuri kain ini.

Perjuangan Alfira Oktaviani Mengibarkan Semilir di Dunia Fesyen

Perjuangan dan berbagai upaya dilakukan oleh Alfira Oktaviani untuk membawa Semilir agar lebih dikenal masyarakat. Dengan terus menekankan nilai sustainability dan budaya Bengkulu, Alfira berhasil mewujudkan Semilir sebagai salah satu icon fashion di Indonesia. 

Menjelajahi Bengkulu Demi Kain Lantung

Setelah berhasil membuat ecoprint pada kain kantung Alfira terus bereksplorasi. Ia ingin mengenal kain lantung secara langsung dari asalnya, sekaligus mencari supplier untuk usahanya. Atas alasan tersebut, Alfira menjelajahi Bengkulu hingga 250 kilometer jauhnya dari pusat ibukota provinsi Bengkulu.

Setelah ditelusuri, ternyata sebagian besar masyarakat setempat menggantungkan hidup mereka dari kain lantung. Mulai dari mencari kayu, memotong dan mengulitinya, yang biasa dilakukan oleh bapak-bapak. Sementara ibu-ibu yang mengolah potongan kulit kayu menjadi kain lantung. Tidak heran kalau mereka melakukan ini sebagai rutinitas, karena permintaan kain lantung ini di pasar cukup besar. Biasanya dijadikan sebagai oleh-oleh khas Bengkulu.

Di sini Alfira juga belajar bagaimana caranya memproses dan mendapatkan kain lantung. Alfira bahkan bertemu langsung dengan pengrajin kain lantung yang sudah 20 tahun menekuni bidang ini. Bambang Hermanto namanya.

Alfira menyaksikan sendiri bagaimana pohon terap dipotong, lalu dikuliti, yang ternyata prosesnya sama sekali tidak mudah. Pohon terap memang bergetah sehingga kulitnya tidak mudah rusak. Tetapi proses menguliti kayu ini harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Hasilnya tentu masih berupa kulit kayu yang basah (karena getah).

Setelah kayu dibuka, dikelupas kulitnya, lalu dipotong-potong, para ibu agar memukul-mukulnya dengan perikai sampai menjadi lembaran berukuran 1 meter. Lembaran ini lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan pada tempat teduh. Setelah jadi, lembaran-lembaran ini akan berubah warna menjadi kecoklatan sebagai pertanda bahwa getah pohon terap sudah kering.

Pada masanya, kain lantung yang dihasilkan ini digunakan sebagai basahan untuk mandi. Namun saat ini, kain-kain dari kulit pohon ini banyak dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan seperti dompet dan gantungan kunci, untuk dijual sebagai oleh-oleh khas Bengkulu.

Mengedukasi tentang Fesyen Berkelanjutan dari Kain Lantung

Proses pembuatan kain lantung yang dilakukan oleh masyarakat Bengkulu yang tidak mudah ternyata juga masih ditambah dengan fakta lain yang cukup mencengangkan. Dalam penelusurannya, Alfira juga mengetahui bahwa praktik ini masih jauh dari kata sustainable.

Pemotongan pohon terap masih sering terhalang penebang liar, yang jelas tidak beretika terhadap alam. Belum lagi kurangnya kesejahteraan para pekerja dan pengrajin yang terlibat dalam proses pembuatan kain lantung. Cukup mengejutkan karena di pasaran, kain lantung masih dihargai sangat murah. Hanya sekitar 50 ribu rupiah per meter. Rasanya tidak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan selama proses pembuatannya.

Meski demikian, masyarakat Bengkulu tetap semangat bekerja sembari terus melestarikan budaya ini. Semangat mereka begitu nyata, hingga mampu menyekolahkan anak-anak mereka bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Ketulusan dan semangat ini yang menggerakkan hati Alfira untuk memperjuangkan keberlanjutan kain lantung Bengkulu. Demi menjaga keberlanjutan ini pula, Semilir membatasi penggunaan kain lantung hanya 100 lembar per tahun. Dengan cara ini, Semilir tidak perlu mengeksploitasi pohon terap dengan membabi-buta. Salah satu inovasinya juga, Alfira menggunakan limbah kayu dari furnitur sebagai salah satu pewarna ecoprint.

Penebangan pohon memang masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Untuk itu Semilir menggandeng berbagai pihak untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu. Semilir bersama DLHK terus berupaya mensosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian dan keberlanjutan alam.

Melibatkan Warga Sekitar dan Berbagai Pihak

Perjuangan Alfira tidak berhenti sampai di situ. Sembari mengembangkan bisnisnya, Semilir juga menggalakkan edukasi kepada masyarakat melalui workshop, pameran dan fashion show. Workshop dan pelatihan diberikan kepada para pemuda, seperti karang taruna, serta ibu-ibu di sekitar Desa Banaran, Kabupaten Gunung Kidul.

Semilir juga bekerjasama dengan Hutan Pendidikan Wanagama Universitas Gadjah Mada untuk membuat ecoprint yang kemudian menjadi tempat produksi oleh-oleh khas Fakultas Kehutanan UGM.

Di bidang fesyen, Semilir kerap kali mengikuti pameran UMKM dan fashion show dalam negeri sembari terus mempertahankan nilai eco fashion. Alfira ingin mengibarkan nilai budaya Bengkulu dalam helaian kain lantung agar lebih banyak dikenal masyarakat. SATU Indonesia Awards juga menjadi salah satu upayanya untuk mengedukasi dan mempromosikan fesyen berkelanjutan ini.

Referensi

  1. Alfira Oktaviasi Pelestari Kain Lantung Bengkulu - https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/pelestari-kain-lantung-bengkulu/
  2. Kerajinan Tradisional Kain Lantung - https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=1400#:~:text=Kain%20lantung%20bagi%20masyarakat%20Bengkulu,itu%20sebgai%20pelindung%20atau%20pakaian.
  3. Inovasi Eco Fashion Bawa Alfira Oktaviana Jadi Pemenang Kewirausahaan SIA 2022, Kamu Juga Bisa! - https://www.indonesiana.id/read/164498/inovasi-eco-fashion-bawa-alfira-oktaviani-jadi-pemenang-kewirausahaan-sia-2022-kamu-juga-bisa
  4. Mengenal 6 Sosok Inspiratif Peraih SATU Indonesia Awards 2022 Astra - https://news.detik.com/berita/d-6379798/mengenal-6-sosok-inspiratif-peraih-satu-indonesia-awards-2022-astra
  5. Mengenal Alfia Oktaviani Founder Semilir Ecoprint Yogyakarta - https://www.radioidola.com/2023/mengenal-alfira-oktaviani-founder-semilir-ecoprint-yogyakarta/
  6. Semilir Promosikan Keberlanjutan Warisan Budaya Kain Lantung dari Pelosok Hutan - https://rejogja.republika.co.id/berita/rnalq7291/semilir-promosikan-keberlanjutan-warisan-budaya-kain-lantung-dari-pelosok-hutan

Alfia D. Masyitoh
Sometimes you may find me as Marcellina Kim. Lifestyle blogger, content writer and clodi enthusiast who loves EXO Baekhyun and SF9 Rowoon. Part of EXO-L and Fantasy.

Related Posts

5 comments

  1. Inovasi dan kreativitas menjadikan sesuatu memiliki nilai lebih di tangan orang- orang yang tepat ya,mbak. Keren semilir eco print ini

    ReplyDelete
  2. Hasil ecoprint tuh lucu-lucu deh, aku juga punya satu gamis dari hasil ecoprint gitu. Warna juga lebih soft biasanya jadi aku suka liatin hasil ecoprint.

    ReplyDelete
  3. aku suka takjub dengan orang-orang yang selalu memanfaatkan alam untuk inovasi yang baru, dan produk semilir ecoprint ini keren2 kalau aku liat instagramnya

    ReplyDelete
  4. Penasaran kain lantung kayak gimana hehe. Kebayangnya kalau dari kayu kan cenderung kaku gitu.

    Tapi idenya bagus, kreatif, dan solutif. Terutama menginspirasi industri fesyen supaya sustainable.

    Salfok sama namanya. Alfira, mirip Alfia 😆 Sama-sama perempuan yang menginspirasi 😉

    ReplyDelete
  5. Saya minat sekali dengan ecoprint ini..masih banyak cari-cari referensi. Takjub dengan semangatnya

    ReplyDelete

Post a Comment