admasyitoh.com

Mereview Film dan Drama untuk Pemula, Ini Lho yang Perlu Ditulis!

5 comments

cara menulis review film dan drama

Beberapa waktu lalu aku sempat sharing tentang cara menulis review film yang asyik dan tidak membosankan. Kata rekan-rekan bloger yang lain, ternyata nulis review film itu nggak gampang ya. Butuh banyak effort kalau mau menghasilkan tulisan yang enak dibaca.

Tapi jujurly aku lebih enjoy menulis tentang Hallyu dan entertainment, meski butuh banyak effort. Padahal kebanyakan rekan-rekanku pegang blog parenting karena mereka sudah punya anak dan sedang berproses membersamai anak. Salut buat temen-temen yang konsisten dengan konten-konten kaya manfaat seperti itu. Aku sampai sekarang masih terjebak di zona nyaman, mencintai oppa-oppa secara brutal dan ugal-ugalan.

Yah, apapun itu, setiap tulisan yang baik memang seharusnya mengandung nilai manfaat, inspiratif, atau setidaknya informatif. Pun tulisan review film yang sepertinya 'unfaedah', pasti masih ada nilai positif yang bisa diambil di dalamnya.

Nah, supaya review film atau drama yang kita tulis lebih informatif, ada beberapa poin yang perlu kita cantumkan. Poin-poin ini akan memudahkan kita dalam menulis review film. Terutama bagi bloger pemula yang masih belajar menulis review serta meraba-raba niche blognya. Semoga tips-tips ini bermanfaat ya!

Yang Perlu Ditulis dalam Review Film

Yeorobun, film terdiri atas banyak elemen yang kalau dipelajari dan 'dipreteli' satu per satu bisa menjadi satu judul tesis. Serupa dengan novel, film juga mempunyai unsur intrinsik dan ekstrinsik.

unsur intrinsik dan ekstrinsik film

Film layar lebar maupun layar kaca merupakan suatu karya seni yang kompleks, lebih dari sekadar seni peran. Ada aspek-aspek sandiwara dan sinematografi yang terlibat secara masif di dalamnya.

Di sinilah pengetahuan kita seputar akting dan teknologi sinematografi dipertaruhkan, yeorobun. Sebuah review film akan terasa lebih nyata dan kaya jika kita juga mengulas teknik-teknik sinematografi di dalamnya. Bukan cuma mengomentari akting, plot dan setting filmnya.

Seandainya, kita bukan ahli sinematografi, apakah kita tidak bisa mereview film? Tetap bisa. Review film bisa ditulis dari sudut pandang penonton atau penikmat film, tidak harus sinematografer atau orang yang punya latar belakang sinematografi.

Nah, dari sekian banyak elemen dalam film, apa saja yang perlu kita tulis dalam review? Bebas. Menurutku setiap penulis mempunyai style masing-masing dalam mereview film. Tetapi untuk menghasilkan tulisan review yang utuh, setidaknya kita perlu menuliskan beberapa aspek berikut.

1. Detail Profil Film

Tak kenal maka kenalan atau kenalkan. Supaya pembaca tahu film yang akan kita review, kenalkan dulu profilnya. Apalagi kalau review yang kamu tulis punya ‘tujuan terselubung’ untuk promosi atau persuasi—supaya orang lain ikut nonton juga. Maka, berikan detail informasi film kepada para pembaca.

Kamu bisa mencantumkan informasi seperti judul asli (literal title), bahasa, asal negara, genre, sutradara (director), penulis skenario, studio atau rumah produksi, produser, tanggal rilis, durasi (run time) atau jumlah episode (untuk film serial dan drama). Oiya, cast atau pemeran filmnya juga perlu ditulis ya. Karena, bagaimanapun juga aktor yang berperan mempengaruhi kualitas film yang dihasilkan.

informasi profil film

2. Sinopsis atau Deskripsi Singkat Plot

Indeed, review film seharusnya tidak mengandung spoiler. Tapi kamu tetap perlu menuliskan sinopsis singkat atau gambaran plotnya secara ringkas. Paling tidak supaya pembaca tahu, oh film ini tentang A, B, C dan seterusnya. Kamu juga bisa menuliskan premis filmnya saja supaya terhindar dari spoiler.

premis dan sinopsis film

Yang perlu dihindari adalah menuliskan alur secara lengkap atau keseluruhan. Sebab hal ini berpotensi menghilangkan minat pembaca terhadap film yang kita review. Jadi nggak nafsu nonton gitulah…

Yah walaupun sebenarnya kembali lagi ke cara kita menulis reviewnya seperti apa. Aku pernah lo, yeorobun, nemu review drama Korea yang ditulis lengkap sinopsisnya per episode. Total ada 16 episode, belum lagi ditambah ulasan dramanya, seperti komentar terhadap alur, akting pemain dan editingnya.

Panjang? Jelas. Panjang banget malah. Butuh waktu setengah jam buat baca keseluruhan. Uniknya, aku sama sekali nggak merasa bosan dan tetap penasaran mau nonton dramanya secara langsung. Salut dengan reviewer yang pandai menyajikan ulasan film seperti itu.

3. Highlight Film

Ada film yang kamu sukai atau berkesan banget buatmu? Kenapa? Nah, itulah yang penting dan wajib ditulis dalam review film. Highlight atau poin-poin yang penting, menarik serta berkesan ini pada dasarnya adalah inti dari review atau ulasan film yang kamu buat. Entah itu scene yang begitu menggugah emosi, mempermainkan perasaan, karakter tokoh film yang tidak terlupakan, bisa juga plot twist yang mengejutkan atau ‘membagongkan’. Tulis aja apa adanya…

Jangan lupa juga, berikan evaluasi atau apresiasi terhadap film. Jika film yang kamu tonton punya kekurangan, kamu bisa menulisnya sebagai bentuk evaluasi. Tidak jarang reviewer juga membandingkan antara beberapa film yang punya kesamaan aspek (seperti kesamaan tema, genre, pemain atau ide cerita).

Sebaliknya, jika film itu punya kelebihan yang menonjol dibanding film lain, kamu bisa menulisnya sebagai bentuk apresiasi.

PENTING! Penilaianmu ini juga bisa menggiring atau membentuk opini pembaca terhadap film yang kamu review ya. Jadi pandai-pandailah merangkai kata, supaya pembaca tidak salah paham menangkap maksud ulasanmu.

4. Kritik atau Argumen Personal

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, dalam review kita juga bisa memasukkan kritik atau argumen personal terhadap film yang ditonton. Berikan komentar terkait akting pemain, karakter tokoh yang semakin berkembang, atau plot yang ‘mbulet bin ruwet’, klimaks yang kurang nendang, sinematografi, sampai editing visual grafisnya.

Perkuat argumenmu dengan data atau referensi yang relevan. That’s why sebelum menulis review film kamu perlu riset sebanyak mungkin. Semakin banyak referensinya, semakin berbobot pula argumentasi yang bisa kamu tuliskan.

5. Insight atau Pesan Moral

Poin ini yang biasanya sering terlupakan. Setiap karya seni, termasuk film atau drama, pada hakikatnya mengandung pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton.

Kalau menulis review secara utuh, maka pesan moral seharusnya ditulis juga dalam satu artikel. Tapi, ada kalanya content writer membuatnya dalam artikel terpisah. Jadi artikelnya khusus membahas amanat film, nggak pakai review. Bisa membayangkan?

Pernah ketemu artikel seperti ini 'kan? ‘5 Pelajaran Penting dari Film Parasite’ atau ‘Kisah Balas Dendam, Inilah 7 Hikmah dari Drama The Glory!’ Nah, seperti itu contohnya.

Yang bagus gimana? Tergantung selera. Style masing-masing penulis beda. Sebagai content writer, kamu bebas berkreasi sesuai gayamu sendiri.

Personally, aku lebih suka yang langsung jadi satu dalam artikel yang sama. Yah, tulisannya memang jadi panjang sih. Tapi buatku pribadi kalau dibuat artikel terpisah rasanya tuh nggak lego, kurang puas. Benang merahnya seperti terputus, yeorobun. Feel-nya jadi kurang menyatu.

6. Kesimpulan

Terakhir, tutup dengan kesimpulan, apakah film yang kamu review recommended atau not recommended. Lebih mantap lagi kalau kamu memberi rating atau skor tentang filmnya. Misalnya, dari skor 1-5 kamu memberi skor 4.7 karena film tersebut secara keseluruhan punya alur yang bagus, karakternya berkembang dan menyajikan visual grafis yang memanjakan mata. Maka, bisa disimpulkan bahwa film tersebut recommended.

INGAT! Bagaimanapun kesimpulan kita, hindari kalimat yang bersifat menjatuhkan atau merendahkan. Jujur dan berani itu perlu, tapi beretika juga tidak kalah penting. Setiap karya film berhak dihargai dan diberi apresiasi. Not recommended menurut kita belum tentu not recommended juga menurut orang lain. So, cara menyikapinya adalah dengan memberikan rekomendasi lanjutan. Seperti ini misalnya:

“Bagi penggemar genre action atau fantasy, yang banyak mengandalkan efek CGI, film ini mungkin not recommended. Sebab, alurnya cenderung lambat dan membosankan. Tetapi bagi penggemar genre romance atau drama, film ini bisa jadi sangat cocok dinikmati ketika akhir pekan, karena punya alur panjang yang bisa mengobok-obok perasaan. Gimana? Kamu tertarik nonton juga?”

Perbedaan Menulis Review Film dengan Drama

Seperti yang kita tahu, serial drama tidak seperti film yang bisa ditamatkan dalam sekali duduk. Serial drama punya beberapa episode karena alurnya lebih panjang serta konflik lebih kompleks. Idealnya memang menulis review dilakukan ketika film yang kita tonton sudah tamat, termasuk drama.

Terus, kalau dramanya panjang sekali, boleh nggak sih nulis reviewnya duluan sebelum drama itu tamat?

Ini masih menjadi perdebatan, yeorobun. Ada beberapa reviewer yang merasa seperti ‘membohongi’ pembaca kalau menulis review drama yang belum tamat. Sebab, keseluruhan alurnya belum terungkap, tapi sudah ditulis duluan. Tentu ulasannya jadi kurang utuh 'kan

Tetapi, ada juga yang tetap bisa menulis review meski hanya berdasarkan beberapa episode. Seperti yang aku pelajari di Drakorclass. Ada yang tahu Drakorclass? 

Menurut coaches di Drakorclass, kita tetap bisa menulis review drama Korea dari beberapa episode yang sudah kita tonton, tidak harus setelah tamat seluruh episode.

Kok bisa? Gimana ceritanya?

Begini yeorobun… Kesan pertama menonton drama ternyata juga termasuk salah satu variasi tulisan review. Misalnya, kita sudah menonton 4 episode nih (biasanya drakor ada 16 episode). Nah, dari keempat episode ini kita sudah dapat gambaran premisnya. Lakon-lakon utama sudah diperkenalkan. Konfliknya pun sudah mulai dimunculkan. Ini bisa banget kita bahas dalam artikel review. 

Kalau menulis review tentang kesan pertama nonton drama, maka kesimpulannya bukan lagi recommended atau not recommended, melainkan lanjut nonton atau tidak lanjut nonton. Kalau lanjut, kenapa? Kalau tidak lanjut pun, apa alasannya. 

Tulisan semacam ini cocok sekali untuk jenis review drama Korea atau serial lain yang punya lebih dari satu episode seperti Sherlock, Manifest, Money Heist dan Enola Holmes. Pernah nonton?

review film vs drama

Summary

Film atau serial drama merupakan karya seni kompleks yang terdiri dari banyak elemen. Untuk menulis review film atau drama, kita perlu merumuskan beberapa poin penting yang wajib ada seperti profil film, sinopsis singkat, highlight, opini atau argumen personal, pesan moral serta kesimpulan.

Lengkapi poin-poin tersebut dengan referensi atau data yang relevan untuk menghasilkan sebuah tulisan review yang utuh dan berbobot. Well, sudah siap menulis review film atau drama? Share pendapatmu di kolom komentar ya!

Alfia D. Masyitoh
Sometimes you may find me as Marcellina Kim. Lifestyle blogger, content writer and clodi enthusiast who loves EXO Baekhyun and SF9 Rowoon. Part of EXO-L and Fantasy.

Related Posts

5 comments

  1. Hooaaa jadi panjang soal review film ini dan aku suka hahah. Mbak Al itu emang pandai merangkai kata buat review film yg recomend atau not recomend. Tapi, aku biasanya nulis review drakor yg aku suka aja sih. Belum pernah nulis yg bukan berdasarkan rekomendasi aku. Masih merasa belum deep kalau review film dan takut salah maknanya. Jadi masih merasa belum puas. Gapapa dilatih terus ya mbak biar bisa deep kaya mbak Al 🥲

    ReplyDelete
  2. Wow... lengkap dan detail sekali kak artikelnya. Bener-bener bisa merefresh ilmu blogging nih... btw, kalau aku tuh bikin review film hanya jika film itu berkesan buatku dan mengandung nilai-nilai positip dalam dunia parenting. Maklum, blog-ku niche nya kesehatan anak

    ReplyDelete
  3. "Jujur dan berani itu perlu, tapi beretika juga tidak kalah penting." Suka deh sama kalimat ini...
    Padahal blog mba rowoon tuh bener2 punya ciri khas lhooo..malah ku kita dlu mba mba abegeh gitu, xixixii
    Smangat terus ya ngeblog nya . Sapa tau nanti dinotice abang rowoon nyaa

    ReplyDelete
  4. lhaa ini harus dicoba tips-tipsnya biar jago nulis review film seperti mbaknya rowoon.

    ReplyDelete
  5. Seperti biasa tulisan Mbak Al itu pasti lengkap dan faedahnya riiiiilll. He-he. Saya baru satu kali menulis review film, itu pun karena tugas coaching dulu. Makasih Mbak Al sudah memberikan pencerahan.

    ReplyDelete

Post a Comment