admasyitoh.com

Kue Apem Kukus, Jajanan Khas Ramadan di Batu Malang yang Mulai Hilang

Post a Comment

kue apem jajanan khas ramadan

Lembut, empuk, berserat, warna-warni cantik, manis dan fluffy. Begitulah yang terbayang ketika mendengar kue apem. Yeorobun, kue apem atau apam tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita ya. Kue tradisional ini sering sekali kita jumpai di berbagai kesempatan, terutama kalau kamu tinggal di Jawa. Aku lahir dan besar di Batu Malang, Jawa Timur. Kue yang terbuat dari tepung beras ini sudah aku kenal sejak kecil. Bahkan jauh sebelum aku lahir, kue ini sudah lebih dulu ada dan menjadi budaya masyarakat di daerahku.

Setelah dewasa dan tinggal di Surabaya, aku masih menemui kue apem ini di berbagai kesempatan terutama ketika bulan Ramadan atau tahlilan. Tapi, ada satu kue apem yang tidak pernah aku temui di Surabaya, yaitu apem kukus.

Dulu, ketika aku masih kecil, mendiang nenek selalu membuat apem kukus ini ketika bulan Ramadan dan momen hajatan lainnya. Kadang polosan warna putih, kadang diberi pewarna merah muda atau hijau. Kadang juga dikreasikan dengan gula merah sehingga lebih legit dan berwarna coklat.

Padahal waktu itu sudah ada apem modern yang dibuat dengan cara dipanggang pada cetakan aluminium cor. Tetapi nenek lebih menyukai apem kukus. Alhasil, kesukaan nenek ini pun menurun kepada anak-anaknya, termasuk ayahku. Ayah pernah secara khusus request dibuatkan apem kukus ala nenek kepada ibu, bukan apem panggang modern.

Apakah rasa apem kukus tradisional berbeda dengan apem modern yang ada sekarang? Tentu saja berbeda. Menurut ayah, apem kukus lebih lezat dan tidak bikin ‘eneg’. Kalau menurutku, rasa apem kukus memang lebih otentik jika dibandingkan dengan apem-apem modern. Mungkin karena ada nilai memori di dalamnya, sehingga apem kukus ini lebih berkesan bagiku.

Lalu, ada berapa jenis kue apem? Apa perbedaan apem kukus dengan apem lainnya? Bagaimana cara membuatnya? Kenapa kue apem identik dengan bulan Ramadan? Temukan jawabannya di artikel ini ya!

Mengenal Kue Apem Lebih Jauh

Seperti yang kita tahu, kue apem berbahan dasar tepung beras, gula dan santan. Apem ini dicetak setelah adonannya mengembang karena diberi ragi atau tape. Nah, menariknya kue apem ini ternyata juga ada di India, dengan rasa dan bentuk yang hampir sama. Orang India menyebutnya appam. Lantas, dari mana kue ini berasal?

Asal-muasal Kue Apem di Indonesia

Dalam buku "Belajar dari Makanan Tradisional Jawa", Dawud Achroni menyebutkan bahwa kue apem diyakini berasal dari Mekah, Arab. Kue ini dibawa oleh seorang ulama yang hidup pada zaman kerajaan Mataram bernama Ki Ageng Gribig.

Singkat cerita, selepas melaksanakan ibadah ke Tanah Suci, Ki Ageng Gribig membawa oleh-oleh salah satunya berupa kue apem ini. Tetapi karena jumlahnya sedikit, tidak cukup dibagikan kepada semua warga, Ki Ageng Gribig lalu meminta istrinya untuk membuatkan kue yang sama. Dengan demikian, semua orang yang hadir bisa merasakan kue apem tersebut.

Menariknya adalah kata apem ternyata berasal dari bahasa Arab ‘affuwun’ yang berarti maaf atau ampunan. Karena lidah orang Jawa yang kesulitan melafalkan kata afwan atau affuwun, maka mereka menyebutnya apem. Sejak saat itu lahirlah kue apem yang terus terpelihara sampai sekarang.

Melihat dari sejarahnya, kue apem ini rupanya mengandung makna yang sangat dalam. Yaitu simbol permohonan ampun atau maaf kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa. Apem ini juga melambangkan kesederhanaan dan rasa syukur. Meski terbuat dari bahan yang sederhana, tetapi rasanya tetap lezat dan nikmat. Hal ini mengandung ajaran bahwa kita tetap harus bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan, meski berupa hal kecil dan sederhana.

Lebih dari itu, kue apem juga mengajarkan tentang sedekah. Apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Gribig pada masa lalu sejatinya merupakan salah satu bentuk sedekah atau memberi kepada orang lain, seperti saudara, tetangga dan umat manusia.

Tradisi dengan Kue Apem

Di Jawa Tengah, kue apem biasanya disajikan saat peringatan Saparan (terjadi di bulan Safar) serta Suroan (bulan Muharram). Masyarakat akan membawa gunungan kue apem untuk diarak dan didoakan sebelum dibagikan kepada seluruh warga. Pada tradisi Ruwahan (bulan Syaban), warga akan mengadakan kenduri di masing-masing rumah secara bergiliran dengan hidangan berupa kue apem.

Di Jawa Timur, terutama di kampung halamanku, kue apem identik dengan tradisi kenduri untuk peringatan kematian anggota keluarga. Seperti ketika 7 harian, 40 harian dan 100 harian. Keluarga yang ditinggal akan mengadakan kenduri dan tahlilan untuk mendoakan yang meninggal. Setelah itu, warga yang hadir diberi ‘berkat’ berupa nasi lengkap dengan lauk—ayam bali, sambal goreng kentang, telur dan mi—serta kue wajib berupa apem dan pisang. Kue lain seringkali ditambahkan dalam bungkusan berkat ini.

Selain itu, kue apem juga diidentikkan dengan tradisi Ramadan. Pada malam 1 Ramadan ada tradisi ‘megengan’. Dulu kenduri megengan ini dilakukan dari rumah ke rumah. Sekarang tradisi megengan ini dilakukan secara kolektif. Warga membawa hidangan berupa nasi dan lauk, serta kue apem ke masjid atau musala. 

Sesampainya di sana, warga berkumpul mengitari makanan-makanan yang sudah dibawa. Imam masjid atau musala akan memimpin doa bersama lalu tasyakuran pun dimulai. Nasi dan kue apem yang terkumpul dibagikan kepada seluruh warga yang hadir.

Tradisi ini diulangi lagi pada malam 21 dan 29 Ramadan dengan hidangan yang sama (nasi lauk dan kue apem). Pada tanggal 1 Syawal, kue apem dihidangkan lagi ketika tasyakuran Syawalan.

Pada tanggal 7 Syawal, warga kembali melakukan selamatan yang dikenal dengan Riyoyo Kupatan (Lebaran Ketupat). Kenduri tetap dilakukan secara kolektif di masjid dan musala, bedanya pada peringatan ini kue apem sudah tidak dihidangkan lagi, sebab makanan yang dibawa adalah ketupat, lontong, sayur dan jajanan lepet (kue dari ketan yang dibungkus daun).

Sehingga, kalau dijumlahkan, tradisi selama bulan Ramadan di kampung halamanku ada 5 kali kenduri tasyakuran yang dilakukan, di mana hampir semua kendurinya harus (lazimnya) menghidangkan kue apem. Inilah mengapa kue apem di daerahku sangat identik dan khas dengan bulan Ramadan.

Pertanyaannya, apakah kue apem ini juga dijual sebagai takjil? Iya, tetapi tidak banyak. Hanya toko-toko kue tertentu (toko kue tradisional misalnya, atau toko kue yang melayani custom) yang menjual kue apem. Kebanyakan penjual takjil menjajakan menu lain, seperti aneka es dan minuman, gorengan, donat, atau kudapan manis lainnya yang lebih digemari oleh anak-anak dan anak muda.

Ya. Benar sekali. Bisa dibilang, kue apem di sini kurang digemari oleh generasi muda. Kebanyakan cuma orang-orang tua yang suka kue apem. Fenomena ini memang cukup disayangkan, mengingat kue apem merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sarat sejarah dan makna.

Entah kenapa kue apem ini kurang disukai anak muda. Mungkin karena kue ini terkesan jadul atau kuno, sehingga kalah ‘pamor’ atau kalah populer dengan kue-kue modern seperti sifon, lapis legit dan brownies.

Dari segi rasa, kue apem memang sangat sederhana, manis dan berserat, kadang ada sensasi kesereten setelah memakannya. Karena terbuat dari tepung beras, kue ini tergolong jajanan berat dan mengenyangkan, sehingga makannya pun tidak bisa banyak-banyak. Makan sedikit auto kenyang.

Macam-macam Kue Apem

Saat ini kebanyakan kue apem yang dijual di pasar adalah kue yang dibuat dengan cara dipanggang. Adonan yang sudah jadi, dituang ke dalam cetakan berbahan aluminium cor, lalu dimasak sampai matang. Apem modern ini menurutku memang lebih mudah dibuat, karena sekali panggang bisa langsung membuat 5-7 buah apem (tergantung jumlah lubang di cetakan).

kue apem panggang

Cara membuatnya pun tidak repot, tidak perlu memanaskan kukusan terlebih dahulu, menuang ke dalam cetakan satu per satu, dan seterusnya. Apalagi dengan canggihnya alat masak masa kini, cetakan apem pun sudah ada yang terbuat dari bahan teflon, yang lebih anti lengket dan cepat panas. Apem modern ini sepertinya menjadi jenis kue apem yang paling banyak dibuat dan dijual.

Selanjutnya, ada juga apem selong yang sama-sama dibuat dengan cara dipanggang. Apem ini pembuatannya sedikit lebih repot, karena satu cetakan kue apem selong biasanya hanya punya 4 lubang. Cara memasaknya sama-sama dipanggang seperti apem panggang biasa.

kue apem selong

Bedanya, apem selong punya ukuran diameter yang lebih besar. Selain itu, bagian pinggirannya dibuat lebih tipis sehingga bisa berwarna kecoklatan. Karena itulah orang-orang juga menyebutnya sebagai apem renda. Dari segi visual, bentuknya memang mirip sekali dengan serabi notosuman.

Terakhir, apem kukus, apem paling tradisional yang aku kenal turun-temurun dari zaman dulu. Sesuai namanya, apem ini dibuat dengan cara dikukus. Adonan dituangkan ke dalam cetakan (sama dengan cetakan kue mangkok atau putu ayu) yang sudah diolesi minyak agar tidak lengket, lalu dimasukkan ke dalam panci kukusan yang sudah panas. Bisa juga dengan cara mengukus adonan menggunakan loyang bolu. Setelah matang, kue apem baru dipotong kecil-kecil.

kue apem kukus

Nah, yang membedakan ketiga jenis kue apem ini—apem panggang, selong dan kukus—selain cara membuatnya adalah konsistensi adonannya. Kue apem panggang lebih kental daripada apem kukus dan selong. Sementara apem selong lebih cair daripada apem kukus, tujuannya agar lapisan pinggirannya bisa matang lebih dulu sehingga bisa membentuk lapisan tipis seperti renda yang berwarna kecoklatan. Dari komposisi adonannya semua sama.

Cara Membuat Kue Apem Kukus

Kalau Googling di internet, kita bisa menemukan resep kue apem dengan mudah, baik apem panggang, kukus maupun selong. Tapi khusus di artikel ini, aku ingin berbagi resep kue apem kukus, sebab jenis apem inilah yang paling otentik. Yang menarik, apem kukus ini bisa dipadukan dengan gula jawa. Rasa manisnya jadi lebih legit, serta tampilannya pun berwarna coklat alami.

kue apem kukus gula merah

Nah, resep apem yang aku tulis di bawah ini adalah resep simpel turun-temurun yang diajarkan oleh nenek kepada ibuku, lalu kini diturunkan buatku. Cara membuatnya gampang, tidak perlu mixer. Pertama, siapkan dulu bahan-bahan berikut:

  • 1 kg tepung beras
  • 10 gelas santan matang
  • 150 gram tape singkong
  • 600 gram gula pasir (untuk apem gula merah, gunakan 700 gram gula Jawa)
  • Sejumput garam
  • 150 gram parutan kelapa yang sudah dikukus (untuk topping)
  • 2 lembar daun pandan

Cara membuat:

  • Campurkan tepung beras, gula dan tape singkong ke dalam wadah
  • Tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga lembut, kemudian tambahkan sejumput garam
  • Aduk adonan dengan whisk atau spatula sampai benar-benar halus, tidak ada yang menggumpal atau bergerindil
  • Diamkan adonan dalam kondisi tertutup selama minimal 1 jam sampai adonan mengembang
  • Sambil menunggu, panaskan panci kukusan
  • Setelah adonan mengembang, tuang adonan ke dalam cetakan kue mangkok atau loyang persegi yang sudah diolesi minyak agar tidak lengket, lalu kukus selama 30 menit dengan api besar
  • Jika sudah matang, keluarkan kue apem dari cetakan, hias dengan potongan daun pandan dan sajikan dengan topping parutan kelapa

Voila…!! Apem kukus siap disajikan. Kalau kamu tidak menggunakan gula Jawa, kamu bisa memberi pewarna makanan pada adonan agar tampilannya lebih cantik. Seperti pewarna merah muda, kuning atau hijau pandan. Gimana? Tertarik mencoba resepnya? Yuk, bikin kue apem buat cemilan lebaran besok!

Referensi

  1. Sejarah dan Makna Apem, Kue Tradisional Jawa yang Kaya dengan Nilai Budaya - https://www.panturapost.com/kuliner/2073258492/sejarah-dan-makna-apem-kue-tradisional-jawa-yang-kaya-dengan-nilai-budaya
  2. Bedanya Kue Apem Kukus, Panggang dan Selong - https://www.kompas.com/food/read/2020/08/20/111100175/bedanya-kue-apem-kukus-panggang-dan-selong

Alfia D. Masyitoh
Sometimes you may find me as Marcellina Kim. Lifestyle blogger, content writer and clodi enthusiast who loves EXO Baekhyun and SF9 Rowoon. Part of EXO-L and Fantasy.

Related Posts

Post a Comment