admasyitoh.com

Kalau #BloggerMasihAda, Lantas Mau Dibawa Kemana?

14 comments

blogger masih ada

Pasca kelas Blogspedia Coaching #3 beberapa waktu lalu, memang ritme hidup jadi sedikit berubah. Benar ternyata, menulis itu harus meluangkan waktu khusus kalau mau konsisten. Kemarin ketika masih coaching—sekitar tiga bulan—terbukti aku bisa posting dua artikel per minggu. Coaching menjadi prioritas utama saat itu. Aku berani meluangkan waktu khusus dengan berbagai pengorbanan, terutama waktu dan pikiran.

Setelah lulus coaching, justru merosot. Ada apa? Kok sampai posting satu artikel seminggu aja kudu dibela-belain begadang biar nggak ditendang dari grup komunitas.

Yeorobun, tulisan ini hanya sebuah catatan evaluasi seorang blogger cupu, sebagai bentuk selebrasi Hari Blogger Nasional. Sekaligus renungan mendalam atas kegundahan penulis tentang masa depan yang lebih misterius daripada misteri apapun di dalam drama Korea. Semoga ada manfaat yang bisa kamu ambil di dalamnya.

Semangat Manusia Ibarat Gelombang di Lautan

Begitulah yang aku pikirkan dan yakini. Ibarat gelombang di lautan, semangat manusia selalu naik-turun. Labil. Seperti sifat manusia itu sendiri. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Semangat belajar, semangat bekerja, semangat berjuang, semangat beribadah. Tidak ada yang stabil.

Tbh, itulah yang aku rasakan akhir-akhir ini.

Rupanya semangatku sedang berada di fase ‘turun’ ibarat siklus gelombang. Ditambah lagi tugas-tugas domestik dan kesibukan di dunia nyata, yang tidak aku tampakkan di dunia maya, menjadi faktor lain yang membuat aktivitas blogging jadi sedikit tersingkir. Blogging sementara jadi anak tiri yang tidak bisa aku prioritaskan nomor wahid.

Semangatku sedang berada di fase bawah, meski tidak sampai di titik terendah.

Lelah dan jenuh setelah tenaga maupun pikiran terkuras mengejar urusan duniawi, membuatku tak lagi punya waktu untuk menulis di blog. Jangankan menulis satu artikel penuh, memikirkan outline saja aku tak sempat. Bukan. Tak menyempatkan, lebih tepatnya. Padahal ide-ide saling berkecamuk di kepala, yang jika tidak segera ‘ditangkap’ pasti cepat menguap.

Aku sadar, tapi tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan ide-ide dan wacana itu. Dan, akhirnya berakhir pasrah, ketika ide-ide hanya menjadi draft yang menumpuk di dashboard. Tanpa eksekusi, apalagi publikasi.

Insecurity dan Gitu-gitu Aja

Tbvh, insecure dan overthinking adalah dua keahlian utamaku akhir-akhir ini. Bakat terpendam yang tidak perlu pengakuan dari orang-orang, tetapi aku sendiri mengakuinya dengan segenap kesadaran.

Salah satu faktor yang membuatku ‘malas’ ngeblog akhir-akhir ini adalah perasaan rendah diri, dan memang ‘maqom’ ku masih rendah sekali, jika dibanding senior-senior mastah blogger di luar sana. Kamu tahu kan, bagaimana rasanya melihat orang-orang di sekitarmu terus mengukir prestasi, sementara dirimu masih jalan di tempat.

Contoh paling sederhana, lomba blog. Meski aku (rasanya) sudah totalitas mengikuti lomba, akhirnya pun tak menang juga. Oke, memang bukan jodohku di sana. Tapi perasaan insecure ketika melihat senior-senior menang lomba-lomba itu rasanya… Hahh, aku mah cuma tokoh figuran di drama Korea, bukan tokoh utama. Begitu kira-kira.

Kok mbak A, mbak B dan yang lain-lain itu gampang banget ya menang lomba. Langganan nangkring di papan pengumuman pemenang?

Bukan jodohmu, Al. Bukan rejekimu. Meskipun kamu sudah tahu teorinya, sudah all out, sudah dikasih tips dan triknya, kalau itu bukan jatahmu yang nggak akan mampir ke kamu. Ujung-ujungnya aku selalu membatin begitu untuk menghibur diri supaya legowo. Sumpah, aku legowo! Ikhlas, tanpa embel-embel.

Memang, kalah-menang dalam perlombaan itu suatu keniscayaan. Menang, alhamdulillah. Kalah, ya udahlah. Lupakan. 

Meski menang bukan tujuan utama, tetapi keinginan itu ada. Rasa penasaran akan sensasi menjadi juara itu ada. Jadi wajar rasanya kalau kadang aku putus asa ketika sudah berkali-kali lomba tapi tidak berhasil juga.

Belum lagi jumlah rekan blogger yang terus bertambah, sementara aku masih 'gini-gini aja'. Kompetisi pun semakin ketat. Sedangkan aku tidak punya skill yang bisa diunggulkan di bidang ini. Insecure pun akhirnya semakin menjadi-jadi.

Hiatus Sementara Waktu

Aku sadar sepenuhnya dengan penurunan semangat juangku di bidang ini. Kemerosotan produktivitas, yang akhirnya sejalan dengan penurunan performa blog. Analitik viewers anjlok drastis, DA/PA dan printilan-printilan lainnya masih merangkak.

Yeorobun, sebetulnya aku tidak ingin terlalu ngotot di dunia blogging ini. Hidupku sendiri sudah cukup bikin lelah dan overthinking. Aku belum sanggup kalau harus semakin overthinking karena blogging. Maunya tuh ngeblog dibawa santai aja buat hiburan…

Tapi kalau mengingat kembali big-why ngeblog, kayaknya nggak bisa kalau ngeblog ini disetel santai gitu-gitu aja. Untuk menjadi bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang, mau tidak mau aku harus mengejar dan mendongkrak performa blog ini agar bisa dibaca banyak orang.

Caranya supaya dibaca banyak orang? Ya harus masuk di page teratas Google. Dahlah, kalau sudah ngomong soal page teratas Google ini panjang urusannya. Panjaaang sekali, sampai aku pun ogah menulisnya di sini. Butuh artikel dan pembahasan sendiri.

Aku tahu ada yang tidak beres dengan 'jiwa' blog ini. Kemarin aku sempat vakum, hiatus, untuk menemukan inti masalah dan solusi kemerosotan 'hidup' blog semata wayangku ini.

Lalu, aku membaca satu buku. Buku bagus yang berhasil menamparku berkali-kali. Judulnya Blog At First Sight, kumpulan kisah inspiratif para blogger mastah yang sudah senior dan jadi panutan. Mbak Naqibah termasuk salah satu penulisnya. Dan, beruntungnya aku karena buku ini diantar sendiri oleh beliau ke rumah. Bukan apa-apa, ceritanya waktu itu beliau lagi ada acara dekat rumah, jadi sekalian mampir. Seperti itu.

Jadi, banyak sekali kalimat inspiratif dari buku ini terutama bagi blogger cupu sepertiku—yang sudah tidak layak lagi disebut blogger pemula. Sudah hampir dua tahun terjun di dunia blogging, jadi nggak pantes lah kalau disebut pemula. Ibarat kuliah lulus wisuda, jatah waktu dipanggil fresh graduate sudah habis. Jadi, blogger cupu aja, pinjem istilahnya Coach Marita.

Aku bukan mau mereview buku ajaib ini, ya. Bukan. Aku kurang ahli urusan mengulas buku. Tapi aku ingin menggaris bawahi beberapa quote para senior yang begitu menancap di kepalaku. Salah satunya kata-kata Mas Priyo ini.

Menulis melatih kita mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran menjadi sebentuk karya yang bisa dinikmati orang lain.

Aku setuju. Menulis tidak jauh beda dengan seni berbicara di depan publik, yaitu menyampaikan gagasan secara komunikatif agar bisa diterima orang lain. Bedanya cuma di media dan metode yang digunakan. Kalau dikira-kira sudah hampir 20 tahun aku dilatih dan dididik menjadi pembicara publik, entah itu pidato, orasi, deklamasi, atau sekedar nge-MC.

Seharusnya menulis bukan masalah besar bagiku. Apalagi menulis di blog yang bersifat sangat personal seperti Sundries Journal yang sedang kamu baca ini. Aku bisa menulis apa saja. Bebas. Suka-suka gue yekan?

Tapi tantangan terus muncul dalam proses yang aku jalani dua tahun ini. Mulai dari kurang skill, skala prioritas dan alokasi waktu, konsistensi, hingga terbentur ide. Kemudian, aku disadarkan oleh kalimat Mas Romy.

Sebetulnya kalimat ‘belum ada ide’ itu hanya bahasa halus dari arti kata malas, yang artinya ide (mungkin) sudah ada, tetapi belum sempat dikerjakan, entah dengan alasan apapun.

Jleb! Kok bener ya. Accurate, valid no debate. Seperti yang aku singgung di atas, di dashboard banyak sekali draft ide yang akhirnya tidak selesai menjadi satu artikel utuh untuk dipublikasi. Nggak sempat, sibuk tugas domestik, jenuh, burnout dan sejenisnya. Sebetulnya itu hanyalah alasan yang aku cari-cari, aku buat-buat, supaya aku sendiri tidak terlalu merasa bersalah karena tidak bisa mengeksekusi artikel sampai tuntas.

Padahal, masih kata Mas Romy, blogger itu perlu mekanisme yang sistematis. Kalau dilakukan secara terus-menerus dan terarah, akhirnya pasti akan mendapat apresiasi, termasuk cuan yang menghampiri.

Ya Allah, aku semakin merasa kalau ternyata ngeblog ini nggak gampang, yeorobun. Aku maunya santai-santai, tapi untuk bisa mencapai ‘maqom’ para mastah senior ternyata perjalannya panjang dan melelahkan sekali. Bisa menebar manfaat bagi sesama, sekaligus mendapat reward berupa rupiah memang another level of blogger, ibarat tingkat tasawuf yang masih sangat jauh dari 'maqom' diriku sekarang.

Wah, semakin salut aku kepada senior-senior yang sudah menghiasi panggung per-blogging-an bangsa ini seperti Mas Priyo, Mas Romy, Mbak Naqibah, Mbak Jihan, Mbak Rini Noe dan yang lainnya. Termasuk coach-ku tercinta, Mbak Marita. Semoga aku bisa mengikuti jejak mereka kelak. Entah kapan, tapi semoga.

Semangat #BloggerMasihAda

Sejauh ini aku lebih sering menulis apa yang aku suka dibanding apa yang (mungkin) orang lain butuhkan. Padahal, aku tahu bagaimana bahagianya (sekaligus bangga) ketika ada orang yang tiba-tiba DM di Instagram setelah baca tulisanku di blog. Tapi aku masih saja terjebak dalam dunia ke-halu-an kepada Rowoon dan Baekhyunyang sering menjadi sumber bahan tulisankusekaligus pelarian demi kewarasan akalku. Ahh, kenapa halu itu nikmat sekali?! Oh, halusinesyen!!

Aku (ingin) meyakini bahwa setiap karya pasti akan menemukan penikmatnya. Setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya, seperti kata Mbak Zakia di kelas Blogspedia Coaching #3 kemarin.

Tapi kalau aku mau blog ini lebih bernilai dan bermanfaat, seperti big-why ngeblog di awal, ke depannya tentu aku harus lebih berusaha keras. Mulai dari upgrade skill, optimasi performa blog, riset keyword yang dibutuhkan orang, hingga membuat perencanaan konten yang terstruktur dan sistematis.

Aku harus memutuskan, mau menulis yang aku suka, atau menuruti apa yang orang lain butuhkan. Syukur-syukur kalau apa yang aku suka kebetulan sama dengan yang dicari orang. 

Dan, akan sejauh mana blog ini nanti dibawa. Apakah sekedar menjadi hobi sehingga orientasi cuan dan materi hanya bonus semata, ataukah blogger menjadi profesi utama sedangkan jauh di lubuk hati paling dalam idealismeku yang dulu belum padam.

Kalau merenung lebih dalam, serta belajar dari cerita-cerita senior, sebetulnya aku masih punya semangat menekuni dunia blogging ini. Semangat #BloggerMasihAda dalam diriku yang terlalu banyak sambat ini. Setelah baca buku Blog At First Sight itu pun aku sadar bahwa inti dan solusi yang aku cari sebetulnya berasal dari diriku sendiri.

Kalau semangat itu masih ada, lalu bagaimana selanjutnya? Lantas mau dibawa kemana? Akan jadi seperti apa blog ini nantinya? Pertanyaan-pertanyaan ini yang sedang berusaha aku jawab sekarang.

***

Tulisan ini untuk menjawab tantangan Blogspedia dalam rangka Hari Blogger Nasional 2022. Agak random, tetapi cukup mewakili segala keresahan penulis terkait masa depan blog Sundries Journal ini.

Alfia D. Masyitoh
Personal lifestyle blogger, content writer, clodi enthusiast. Chocolate and coffee addict. Baekhyun and Rowoon lovers. Fans of EXO & SF9. We are one, 사랑하자!

Related Posts

14 comments

  1. Tuh kan bisa aja nyambung²in kalimat ke biasnya. Skill mba ini emang beda. Tetap semangat mba. Meski menurun pasti bisa naik lagi. Padahal ya aku juga lagi turun 😂

    ReplyDelete
  2. Wah, bagaimana dengan diriku yang masih awam ini dengan dunia blogger hehe, semangat terus pokoknya yaa

    ReplyDelete
  3. setelah liat tulisan kakak malah saya yang jadi insecure, bagus sekali ngerangkai katanya. ngomong ngomng bener emang etika ada orang yang tiba-tiba DM di Instagram setelah baca tulisan kita di blog rasanya senang aja, ada manfaatnya ternyata haha

    ReplyDelete
  4. Jadi penasaran sama isi bukunya, saya sudah cukup lama nge blog, memang betul semangat nulis naik turun. Kalau saya pribadi menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk healing, jadi seperti otomatis masih rutin buat ngisi blog dengan curahan hati.

    ReplyDelete
  5. Keren Mbak tulisannya. Saya pun tergiring menyimak sepenuh hati, serasa sedang berkaca pada diri sendiri hehehe. Rasanya perjuangan nge-blog saya pun masih panjaaang. Tapi tetap harus saya perjuangkan. Semangaaat..

    ReplyDelete
  6. Saya juga gitu mbak, suka kebentur antara tulisan yang dicari orang dengan tulisan yang saya sukai. Akhirnya saya ambil jalan tengah, riset keyword yang banyak, lalu saya pilihin tema keyword yang saya suka lalu saya tulis.

    ReplyDelete
  7. semangat mbak, gandengan yuk untuk saling menyemangati, semangat memang naik turun tak apa mbak, asal tidak berhenti, mengambil jeda juga perlu untuk menghimpun semangat lagi

    ReplyDelete
  8. Perjuangan jadi blogger ya ini, kak... semangat menulis dan konsisten untuk terus berkarya... (ngomong ke diri sendiri juga hahaha...)

    ReplyDelete
  9. Konsisten itu emang menjadi hal yang sulit yaa mba. Sama halnya dengan diriku huhu padahal pengen banget jadiin blog yang dipunya itu besar. Tapi nyatanya juga cukup struggle huhu thanks yaaa kak udah sharing! semangatttt

    ReplyDelete
  10. Sejujurnya yah..
    Yang bikin aku semangat buat menulis tuh ya..dari BW. Kalo ada hari nempelin link eh, drop link ya.. hehehe, akutu kaya merasa kudu naro gitu.. Kalo engga, suka bilang ke diri sendiri "Yah, kamu melewatkan kesempatan 20 komen hari ini" (misalnya share linknya sampe 20)

    Terus rasanya gak nyaman gitu ya.. drop link itu lagi, itu lagi.
    Jadi setiap hari kudu berpacu melihat apa yang bisa dijadiin tulisan.
    Kalo bener-bener gak mood, memang sungguh berantakan sekali sih.. Semacam jenuh.

    Tapi aku selalu inget kata-kata Haechan, bahwa "Jadikan aku peringkat ketigamu. Nomer satu orangtua, pekerjaan (sekolah) dan yang ketiga adalah NCT".

    Ini komenku mulai gak nyambung sepertinya...
    Hahhaa.. akupun jadi bingung.

    Intinya kalo butuh istirahat, ya istirahat.
    Kalo butuh nulis, ya nulis. Tapi sebisa mungkin nulis karena performa blog yang bagus adalah yang selalu diisi dengan konten organik.

    ReplyDelete
  11. Iya kak, kadang saya ada ide mau nulis, tapi terlalu asik scroll medsos...

    ReplyDelete
  12. Mba.. Mba keren bangetttt.. Untuk memulai dan bisa konsisten .. Aku belum bisa kayak mba mba yang lain... Pgn bangetttt.. Semnagatin aku juga mbaaa

    ReplyDelete
  13. Sering terjadi di kehidupan para blogger yah kak. Rasa malas, rasa jenuh dan insecurity. Tapi tetap harus menulis dan berkarya ya kak

    ReplyDelete
  14. Blogger masih ada dan akan tetap ada. Apalagi fungsi blogger sekarang berkembang lebih ke arah bisnis dan sebagainya.

    ReplyDelete

Post a Comment